Sabtu, 21 Mei 2022

Manajemen Keuangan ala Keluarga Saya #3

Kami mulai menata keuangan keluarga, terutama dalam hal mindset. Saya butuh asupan ilmu dalam hal manajemen keuangan. Alhamdulillah, mendapat nikmat berupa karir suami yang berjalan baik. Beliau dan beberapa karyawan lainnya mendapat promosi menjadi pimpinan di kantor unit. Seperti pada instansi lainnya, biasanya tiap kantor mewadahi komunitas atau perkumpulan wanita yang terdiri dari istri pegawai dan karyawati. Organisasi ini bergerak dalam bidang sosial dan mengikuti aturan sesuai kebijakan dari pihak manajemen (dinas) dan organisasi induk. Karena suami adalah pimpinan pada kantor yang bersangkutan, maka saya sebagai istri diamanahkan sebagai ketua perkumpulan wanita tersebut. Kesempatan baik, maka saya beserta pengurus menyusun program kegiatan edukasi. Salah satu edukasi mengenai manajamen keuangan keluarga sesuai syariat Islam.
Tidak sulit menemukan pemateri dalam bidang ini. Seorang dosen UNP yang kebetulan adalah anggota perkumpulan namun berdomisili di unit lain. Beliau bersedia memenuhi undangan kami untuk memberikan edukasi terkait masalah pengelolaan keuangan keluarga muslim.
Dari pemaparan beliau, hal penting yang menjadi bekal saya hingga saat ini dalam mengelola uang antara lain:
- Cara menjaga kestabilan keuangan keluarga adalah dengan menambah sumber pemasukan. Jika hal ini belum memungkinkan maka yang paling dapat dilakukan adalah melakukan pengaturan keuangan seperti :
1. Tidak boleh lebih besar pengeluaran daripada pemasukan
2. Menabung minimal 10% dari pemasukan yang dilakukan sejak awal setiap bulan berjalan. Bukan memabung dari uang sisa
3. Merencanakan belanja agar pengeluaran terkendali
4. Kesempatan menabung adalah saat usia anak masih kecil dan kebutuhan biaya pendidikan belum tinggi serta pengeluaran lainnya
5. Menyiapkan dana darurat
6. Sedekah.

Sejak mendapat materi keuangan, menjadi momentum bagi saya untuk mulai berbenah dalam membelanjakan uang. Hal pertama yang kami lakukan adalah membuat tabungan pendidikan setiap anak. Alhamdulillah tabungan ini belum kami cairkan hingga saat ini.
Selanjutnya saya dan suami berbagi tugas. Untuk biaya yang sifatnya rutin, menjadi tanggung jawab saya. Jadi untuk mengetahui jumlah nominal kebutuhan biaya rutin, saya membuat catatan perkiraan pos pengeluaran dan biaya masing-masing setiap bulan. Total jumlah biaya pengeluaran tersebut ditambah kemungkinan ada perubahan harga menjadi patokan jumlah dana yang saya ajukan ke suami. Jadi suami tinggal transfer dana tersebut setiap bulan.
Pada tahun 2012 saya mulai melakukan investasi emas LM bersama teman kuliah lainnya. Kami lakukan arisan emas. Namun pada tahun 2016 saya hentikan karena ternyata emas harus dibeli dari dana tunai, bukan dari hasil hutang. Sementara arisan adalah dana hutang dengan konsep himpun dana dari anggota setiap periode waktu yang disepakati. Hasil kumpulan dana setiap periode diterima seluruh anggota secara bergilir. Jadi selama semua anggota belum menerima dana maka uang yang diterima masih sifatnya hutang.
Demi ketenangan diri dan hati serta meninggalkan keraguan, maka saya putuskan membubarkan kelompok arisan tersebut. Tentu saya sampaikan alasan seperti di atas. Beragam respon dari anggota karena sudah merasa nyaman menjalani arisan ini. Kami sudah terbiasa dan disiplin menyisihkan dana setiap bulan untuk target membeli emas Logam Mulia (LM) di daerah masing-masing.
Namun saya tetap wajib menghentikan kegiatannya. Kebiasaan disiplin menyisihkan dana untuk beli emas dapat kami lanjutkan, tapi dikelola masing-masing.
Alhamdulillah kebiasaan ini saya teruskan. Target emasnya juga tidak besar, yakni 5 - 10gr setiap 10 - 12 bulan. Jumlah yang disisihkan menyesuaikan anggaran yang tersedia.
Bersambung...
Tangsel 21 Mei 2022
Mom 4F

Kamis, 31 Maret 2022

Manajemen Keuangan ala Keluarga Saya #2

Pengunduran diri dari tempat bekerja saya lakukan atas kehendak sendiri. Saya dan suami tidak ingin hidup terpisah ditambah belum punya anak sepeninggalnya bayi kami yang pertama. Sumatera Barat, Padang tempat kerja baru suami bukanlah daerah yang dekat dari Makassar. Perlu dua kali naik pesawat untuk menjangkaunya. Tentu dengan jarak seperti ini pasti berpengaruh pada kondisi keuangan kami. Pilihan saya resign pastinya juga mempengaruhi besar income kekuarga kami jadi berkurang. Memilih tetap bersama suami walaupun harus kehilangan pekerjaan dan pemasukan adalah pilihan yang tepat. Saya yakin rezeki tidak akan kemana. Toh mencari tambahan income tidak harus menjadi karyawan di perusahaan orang lain. Kebetulan dulu saya bekerja sebagai staf di bagian maintenance dan engineering pada sebuah industri pangan di Makassar.

Alhamdulillah kami mulai resmi berstatus perantau. Tepat tahun 2007 menjadi warga pendatang di Padang, Sumbar. Tiga anak kami lahir, masing-masing lahir pada tahun 2008, 2010, 2011 dan yang bungsu lahir pada tahun 2021.
Ketika anak saya masih kecil-kecil, kami belum concern pada masalah pengaturan keuangan. Kami beli apa saja yang kami butuh dan inginkan, selama rekening tidak kosong dan masih ada saldo buat ongkos mudik. Prinsip keuangan kami benar-benar masih sangat primitif. Jauh dari perencanaan. Hingga pada satu titik dimana kami mulai memperhatikan nominal yang ada di rekening kami. Kok yah angkanya begitu-begitu saja padahal suami sudah bekerja sekian tahun, yang boleh dibilang jumlah gaji yang diterima suami, seharusnya lebih dari cukup. Tidaklah sulit menyisihkan sebagian untuk menabung.
Akhirnya kami mulai diskusi, mengidentifikasi pada pos mana kami melakukan pemborosan. Ternyata perilaku boros sebenarnya ada pada saya. Terutama saat ke toko perlengkapan bayi. Yang parah hampir setiap pekan saya ajak suami ke toko ini. Saya paling senang kalau sudah berada di sana. Pakaian dan mainan lucu ada saja yang terbeli.
Suami juga tidak pernah membatasi, karena ia juga senang melihat pernik bayi. Jadi apa saja yang sudah masuk keranjang dan yang diambil anak karena sudah bisa memilih mainan pasti kami belikan. Waw sungguh kebiasaan yang tidak disadari membuat kami lupa untuk memikirkan hal yang lebih penting kedepannya.
Suami mulai prihatin dan mengajak saya agar lebih disiplin dalam memggunakan uang. Beliau mengajak agar dalam sebulan ada yang bisa disisihkan dari gaji sebagai tabungan.
Saya juga mulai merasa bersalah, karena seharusnya sebagai perempuan yang lebih mampu melakukan pengelolaan keuangan. Ah sudahlah, yang telah terjadi kami jadikan pembelajaran. Kami komit untuk membiasakan diri agar lebih disiplin lagi memperlakukan uang.
Hal pertama yang saya lakukan adalah membuat pencatatan semua pengeluaran setiap hari. Nanti direkap setiap akhir bulan sehingga tahu berapa pengeluaran dalam sebulan.
Bersambung...
Tangsel 31 Maret 2022
Mom 4F

Senin, 28 Maret 2022

Manajemen Keuangan ala Saya #1

Boleh dikatakan saya tidak memiliki bekal ilmu pengaturan keuangan kecuali melihat cara mama saya mengatur keuangan di keluarga ketika masih bersamanya. Uang yang saya miliki tidak pernah berlebih untuk bisa saya gunakan sesukanya seperti makan di tempat mahal apalagi beli pakaian atau barang-barang khas yang dimiliki perempuan. Alhamdulillah sejak dulu kami sudah ditanamkan dengan pola hidup dibawah penghasilan. Tidak perlu gengsi menggunakan barang-barang lungsuran dari saudara atau beli dari pusat tempat jual barang preloved yang biasanya didatangkan dari luar negeri. Harga barang seperti ini sangat murah tapi barangnya masih sangat layak digunakan.
Meskipun demikian terkadang muncul keinginan untuk merasakan kuliner yang sering diiklankan di televisi. Ah pasti rasanya enak. Setelah kuliah, barulah dapat merasakan menu yang diidamkan itu. Inipun karena ditraktir kakak.
Selepas kuliah, Alhamdulillah dapat pekerjaan dan punya gaji, yuhhuuu. Disinilah saya mulai merasa merdeka untuk belanja. Barang pertama yang saya beli setelah punya gaji adalah handphone. Pastinya beli jenis handphone (hp) biasa saja, yang penting fungsinya. HP pertama saya adalah Nokia xxxx, lupa yang tipe berapa. Layarnya masih hitam putih. Tulisannya masih bentuk string. Saat itu sudah banyak hp bagus tapi mahal. Saya memutuskan beli yang sesuai budget yang tanpa menghabiskan seluruh gaji, karena setiap bulan saya mewajibkan diri untuk mengirim ke orangtua di kampung. Mereka sebenarnya tidak minta, bahkan punya gaji pensiun sebagai pns.
Pada masa masih kerja, saya belum terpikir untuk menabung apalagi berinvestasi. Setiap terima gaji, yang terpikir adalah memberi kepada orang tua, saudara yang masih kuliah. Prinsip saya saat itu, biarlah habis toh saya gunakan bukan untuk berfoya-foya.
Hampir 2 tahun saya bekerja di sebuah industri, akhirnya mendapat lamaran dari kakak angkatan yang sekarang menjadi suami saya.
Sebelum menikah, yang beliau tanyakan adalah jumlah gaji saya, berapa besar pengeluaran saya sebulan. Yah, saya jawab apa adanya. Lalu ia tanya, apakah saya bersedia berhenti dari pekerjaan setelah menikah?
Saat itu, tanpa berpikir panjang saya jawab saja iya. Saya yakin dengan dirinya bahwa akan bertanggungjawab atas segala konsekwensi jika saya berhenti dari pekerjaan saat itu.
Setelah kurang lebih 1 tahun bersama, beliau dapat SK mutasi kerja ke pulau Sumatera tepatnya ke Padang.
Saya tidak punya gambaran sama sekali tentang pulau ini kecuali daerahnya rawan gempa. Berhubung kami baru saja kehilangan bayi (wafat) ketika suami mendapat SK, maka tanpa pikir panjang lagi saya ajukan pengunduran diri di tempat kerja. Jadi saya bekerja selama kurang lebih 2 tahun.
Bersambung.....
Tangsel, 28 Maret 2022
Mom 4F

Selasa, 22 Maret 2022

Menjalani peran sebagai asisten lab#4

Dari peristiwa saya tersengat listrik, menjadi sebuah pengalaman tersendiri. Saya belum bisa melupakan seperti apa rasanya, meskipun besarnya sengatan yang ada saat itu bukanlah sumber tegangan yang cukup besar. Mungkin kejadian seperti ini sudah biasa bagi asisten lain, namun bagi saya terutama setelah menikah, kejadian tersebut sering teringat kembali. Setiap saya berhadapan dengan peralatan listrik baru, atau peralatan yang sudah lama, yang muncul pertama adalah bayangan rasa tersengat listrik seperti yang terjadi di lab. Saya cenderung takut dan ingin menghindari untuk menggunakan peralatan tersebut
Namun tidak ada pilihan, maka saya berusaha menghadapi rasa takut ini dengan mengambil langkah atau prosedur agar tidak tersengat listrik, misalnya memastikan bagian peralatan yang bertegangan tidak terbuka, saya menggunakan pelapis atau pelindung tangan, alas kaki ketika menggunakan peralatan listrik yang sudah lama. Pengalaman yang tidak nyaman itu sebenarnya memberikan 2 hal bagi saya, hal positif yaitu saya menjadi lebih berhati-hati ketika hendak menggunakan alat listrik. Hal negatif yaitu saya sering overthinking terhadap keamanan sebuah peralatan sehingga memakan waktu saat memulai menggunakan alat listrik.
Saya mencoba menerima keadaan ini dan berusaha menghadapi ketakutan yang hadir ketika menjalankan alat atau mesin listrik.

Rasa takut tersengat listrik sebenarnya lebih mempengaruhi saya ketika sudah berumah tangga. Saat masih sebagai asisten, saya mampu menyikapi hal tersebut dengan biasa-biasa saja. Mungkin salah satu sebab saya jadi trauma karena sering mendengar langsung kabar tentang kecelakaan kerja (tersengat listrik) yang dialami pegawai di perusahaan listrik. Ada yang bisa selamat ada juga yang meninggal di tempat.
Yah, listrik memang sebuah zat yang tidak terlihat oleh kasat mata namun tenaga yang dihasilkan cukup besar. Itulah mengapa orang memanfaatkan listrik untuk berbagai keperluan yang harus selalu disertai alat pelindung atau pengaman yang handal.
Kami sebagai asisten cukup memahami hal seperti ini.
Prosedur yang harus dipenuhi praktikan sebelum mulai praktek mutlak dilaksanakan. Jika persyaratan safety tidak lengkap atau tidak sesuai, maka tidak ada toleransi praktikan langsung batal ikut praktikum. Membangun perilaku disiplin seperti ini selalu ditegakkan dan tentunya kami sebagai asisten lab yang memberi contoh terlebih dahulu.
Karakter disiplin sangat diperlukan dalam bidang apa pun, tidak hanya dalam dunia kerja saja. Bahkan dalam rumah tangga saya merasakan pentingnya membangun karakter disiplin sejak dini. Sikap 'semau gue' yang berlawanan dengan disiplin dapat mengacaukan diri dan juga orang lain yang terlibat kerjasama dengan diri kita.

Jadi saya sangat bersyukur kepada Allah, yang sudah menggerakkan hati, pikiran dan badan saya untuk memutuskan bergabung menjadi asisten laboratorium teknik energi. Bisa saja, saya tetap ingin berada pada zona nyaman saat itu, tidak perlu memikirkan banyak hal agar waktu lebih berguna bagi kepentingan diri sendiri.
Ternyata dengan menjadi asisten lab, saya belajar bagaimana melayani praktikan, memastikan kebutuhan untuk praktek mereka terpenuhi, melakukan penjadwalan antara waktu kuliah, mengawas, asistensi, administrasi praktikum dan lainnya.
Alhamdulillah banyak hal yang saya alami, pelajari ketika menjadi asisten. Leadership skill juga turut terbangun dengan melihat bagaimana mengelola sebuah corps agar tetap kompak, bertanggung jawab pada peran masing-masing.
Saran saya bagi adik-adika mahasiswa(i), ikutlah salah satu atau beberapa kegiatan kemahasiswaan yang memang gue banget. Tapi ingat kegiatannya tetap terukur sehingga tidak komplikasi dengan jadwal kuliah adik-adik.
****
Tangsel 22 Maret 2022
Mom 4F

Selasa, 15 Maret 2022

Menjalani peran sebagai asisten lab#3

Pada setiap percobaan, praktikan perlu memperhatikan petunjuk gambar. Untuk percobaan yang resiko bahayanya lebih besar biasanya kami asisten lebih banyak yang mengeksekusi merangkai peralatan. Praktikan cukup membantu memilih dan memgambilkan semua peralatan. Asisten memperlihatkan contoh cara merangkai antar komponen, bagaimana menyiasati jika salah satu alat rusak. Sambil merangkai, asisten juga menjelaskan proses listrik yang sedang terjadi untuk setiap perlakuan misalnya jika tegangan masuk dinaikkan, bagaimana pengaruh pada kecepatan motor, berapa arus yang melalui penghantar, dan seterusnya.

Sungguh kaya akan pengalaman ketika kita menjadi asisten lab. Keinginan untuk melakukan riset terhadap timbulnya gejala listrik yang tidak lazim menjadi keseruan tersendiri. Kami dan praktikan juga sering terlibat diskusi karena munculnya banyak pertanyaan pengandaian. Kadang di penghujung diskusi dapat menemukan jawaban, tak jarang pula menjadi PR bagi praktikan untuk memancing rasa ingin tahu mereka dan berusaha mencari jawabannya.

Satu peristiwa yang saya alami dan tak bisa terlupakan. Peristiwa itu menyisakan trauma bagi saya. Ketika berperan sebagai koordinator praktikum bagi anak D3, saya menjadi pengawas praktikum percobaan Motor DC. Tanpa semgaja saya menggemgam ujung jumper yang sedang bertegangan. Bukan main kagetnya, karena saya sempat kena setrum, bersyukur jumper bisa saya lepas segera sambil berteriak tanpa sadar. Alhamdulillah, karena sejak awal siapa saja yang masuk lab diwajibkan memakai sepatu, yang merupakan salah satu cara untuk mengurangi resiko terkena setrum.
Setelah kejadian, saya sedikit malu karena sebagai asisten kok lupa memastikan bahwa penghantar yang sedang bertegangan seharusnya tidak asal sentuh bagian yang menghantar. Sungguh saya lupa memastikan karena ingin percobaan segera berakhir. Sampai sekarang, kejadian sengatan listrik itu masih terasa.
Tentunya setelah kejadian, percobaan tetap saya teruskan. Meskipun dalam hati ada rasa gentar, namun saya tetap terlihat tenang di depan praktikan. Biar terlihat seperti tidak terjadi apa-apa, padahal kejadian tersebut sangat meninggalkan jejak di memori saya.
Saya jadikan peristiwa itu sebagai bahan pembelajaran juga bagi praktikan. Hal-hal apa saja yang perlu dilakukan sebelum melakukan penyambungan atau pemutusan rangkaian.
Bersambung....

Family Strategic Planning (FSP) 2025 Part 2

  Pada 11 Januari 2025, Sabtu kemarin adalah perdana kami lakukan forum keluarga secara sengaja untuk membahas peta keluarga. Sehari sebelum...