Minggu, 09 Januari 2022

Red Campus #1

Hari itu, dimana hari pengumuman kelulusan kami di SMA. Alhamdulillah semua murid kekas 3 dinyatakantah lulus. Oh iyah setelah ujian nasional kemarin, kami kedatangan kakak-kakak dari kampus untuk memberi gambaran tentang jurusan apa saja yang ada. Mereka juga menyampaikan strategi dalam memilih jurusan yang peluang lulus nya besar. Terdapat beberapa jalur yang dapat ditempuh untuk bisa masuk ke perguruan tinggi. Salah satunya jalur bebas tes. Siswa mengirimkan berkas berupa raport dari kelas 1 sampai kelas 3. Saya ikut menyetorkan berkas untuk bebas tes. Qadarullah saya belum diijinkan Allah menggunakan jalur ini. Yang jadi harapan adalah ikut tes UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri).

Hampir semua guru SMA saya menyarankan memilih jurusan kedokteran, pertimbangan mereka bahwa kemampuan saya di bidang sains seperti Biologi, Fisika cukup sesuai untuk jurusan tersebut. Namun saya tidak tertarik dengan jurusan kedokteran. Ada 2 alasan mengapa saya tidak tertarik yaitu :
1. Tidak suka menghapal
2. Biaya buku, spp dan lainnya mahal
Nah, saya cenderung ingin memilih jurusan teknik, yaitu Teknik Elektro. Jurusan ini juga direkomendasikan oleh kakak pertama. Teknik elektro saat itu menjadi salah satu jurusan pavorit. Menurut kakak, alumni jurusan elektro pilihan lapangan kerjanya lebih banyak. Saat itu mindset saya lanjut kuliah adalah biar bisa dapat kerja di perusahaan keren, gaji gede, sehingga keadaan ekonomi keluarga menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Hati saya sudah mantap ingin memilih jurusan Teknik Elektro.
Orang tua sangat mendukung apa pun pilihan jurusannya. Yang terpenting bisa lulus masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Mereka sering ucapkan ini "Kami hanya mampu menyekolahkan kalian di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), jadi belajarlah dengan sungguh-sungguh agar lulus masuk PTN!". Jaman dulu di kampung, anak yang bisa lulus masuk ke PTN merupakan salah satu kebanggaan tersendiri. Masyarakat beranggapan bahwa hanya anak pintar yang bisa lulus masuk PTN melalui UMPTN (ujian masuk perguruan tinggi negeri), istilah seleksi masuk PTN saat itu. 
Bersambung.....
09 01 2022
Mom 4F

Jumat, 07 Januari 2022

Putih abu-abu #3

Mama melihat perilaku saya yang enggan menyelesaikan jatah tugas domestik menjadi kesal. Meskipun saya rajin belajar, ia tetap memberi saya tugas, dan tidak membolehkan siapa pun mengerjakannya. Mama termasuk orang yang tegas pada peraturan yang sudah dibuat. Akhirnya dengan terpaksa saya tetap mengerjakan tugas domestik tersebut. Yaah kadang hasilnya terlihat separuh hati alias tidak ikhlas, kadang juga minta tolong sama sepupu yang tinggal di rumah dengan imbalan uang memakai uang saku saya. Ih kalau diingat-ingat sekarang jadi lucu, mama saya juga ikutan ketawa kalau kami telponan atau sedang kumpul membahas kelakuan anak-anaknya yang sering bikin beliau sebel. Jadi kangen orang tuaku yang berada nun jauh di Sulsel sana.

Di sisi lain saya bersyukur karena yang awalnya rajin belajar karena ingin menghindar dari pekerjaan rumah, ternyata kebiasaan itu jadi menyenangkan bagi saya. Suatu waktu saya sangat ingin ikut kursus bahasa Inggris di kota lain, lokasinya tidak begitu jauh dari kampung saya. Namun kondisi ekonomi keluarga saat itu, tidak memungkinkan untuk bisa membayar biaya kursus. Ditambah dua orang kakak saya sedang kuliah yang tentunya perlu biaya yang tidak sedikit. Saya pun menemukan cara agar bisa belajar sendiri. Kami punya radio di rumah yang bisa menangkap siaran AM. Kebetulan TV tua yang ada di rumah, sudah lama rusak dan tidak menjadi prioritas untuk membeli TV baru. Dari radio tersebut saya cari siaran radio chanel : BBC London, Suara Netherland, aduh lupa nama chanel lainnya. Saya catat jadwal kapan ada acara pelajaran bahasa Inggris, bahasa Belanda dan berita. Senang dengar berita karena menggunakan bahasa asing. Meskipun saya tidak begitu paham apa yang diucapkan oleh pembaca berita. Dengan setia mendengarkan beritanya hingga selesai. Sambil berhayal saya sedang berada di negara tersebut. Oh iyah saya sempat mengirim surat ke alamat stasiun kedua radio tersebut. Alhamdulillah senangnya bukan main ketika mendapat qbalasan berupa kartu dan buletin. Sayang pada waktu itu belum punya smartphone untuk mengabadikan gambar kartu ucapan dan buletinnya. Biasanya surat siswa-i yang masuk, dipajang di jendela kaca ruang guru. Siapa saja yang melintas di depan ruang tersebut bisa mengetahui siapa yang sedang mendapat kiriman surat. Kadang surat saya diambilkan oleh teman satu kelas, kemudian kita baca ramai-ramai. Serasa surat milik bersama.

Begitu banyak kenangan masa SMA, jika dituliskan semua tidak akan cukup dalam waktu semalam menuliskannya. Mudah-mudahan pada edisi khusus saya bisa menuliskan ulang secara lebih lengkap.
Alhamdulillah pada tahun 1998, saya dan semua teman satu angkatan dinyatakan lulus ujian SMA. Bahagia mengetahui kabar tersebut. Ini bertanda kami akan berpencar melanjutkan etape kehidupan kami masing-masing. Mungkin ada yang memilih atau terpaksa tidak melanjutkan pendidikan, ada yang pergi merantau dan ada juga yang menikah bagi yang sudah bertemu jodohnya.
Sementara saya sendiri harus memikirkan dan mempersiapkan segala sesuatunya. Pertanyaan yang terlintas dalam pikiran saat itu "apakah diri ini bisa berjodoh masuk ke perguruan tinggi negeri?". Kalau tidak, terancam tidak bisa kuliah.
Bersambung......
Tangsel, 07 Januari 2022
Mom 4F

Kamis, 06 Januari 2022

Putih abu-abu #2

Setelah 3 tahun duduk di bangku SMP, perjalanan berikutnya adalah memasuki gerbang putih abu-abu (SMA). Pada tahun 1995 saya mendaftar di SMA Negeri yang ada di kampung. Sekolahnya terbilang baru, jadi masih terdapat beberapa ruang dengan bangunan darurat. Saya menempati ruang darurat tersebut ketika kelas 1. Teman-teman di SMA hampir semuanya berasal dari SMP yang sama, sehingga suasananya serasa masih di SMP hanya beda kostum saja.

Setiap jenjang kelas terdiri 4 (empat) ruang. Alhamdulillah saya bisa melewati jenjang kelas 1 dengan tetap meraih rangking 1 (satu). Tiba di kelas 2 (dua), pengaturan penempatan siswa berdasarkan nilai akademik. Saya dan teman lainnya yang dianggap memiliki nilai raport tinggi disatukan dalam kelas yang sama, nama kelasnya 'kelas unggulan'. Dulu waktu kelas 1 saya cenderung santai dalam belajar karena merasa tidak ada saingan. Berbeda ketika sudah kelas 2 dan berada di kelas unggulan, sungguh terasa tekanan persaingannya. Peringkat saya sempat anjlok ke angka 4 (empat) yang sekali terjadi sepanjang saya menempuh pendidikan SMP - SMA. Deg-degan rasanya waktu terima rapor, karena berpikir orang tua saya pasti marah. Syukur Alhamdulillah respon mama dan ayah jauh dari apa yang saya pikirkan. Mereka tidak marah, hanya memberi nasihat kepada saya agar lebih semangat lagi dalam belajar.

Menjelang kenaikan tingkat yakni ke kelas 3 (tiga), sekolah mengadakan pesantren kilat. Seluruh murid kelas 2 wajib ikut. Kami bermalam di sekolah selama 5 (lima) hari. Program pesantren kilat sebagai wadah untuk menambah pengetahuan agama Islam secara mendalam dibanding materi-materi yang didapatkan pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Penerapannya juga diperkuat melalui praktek secara rutin. Yang paling berkesan bagi saya adalah nikmatnya kumpul dengan teman sekolah dan bermalam bukan di rumah, jadi mendapat suasana baru. Kalau tentang materi pelajaran, kebanyakan pakai metode ceramah oleh pengajarnya sehingga saya sering merasa ngantuk apalagi setiap malam kami harus bangun shalat malam. Cara yang saya lakukan agar rasa kantuknya segera hilang, dengan mencatat apa yang disampaikan pemateri, berusaha aktif bertanya. It's worked!
Akhirnya selesai juga masa pesantren kilat, itu berarti libur panjang (libur kenaikan kelas).

Bahagia banget, orang tua saya memberi ijin berlibur ke Balikpapan. Di sana saya punya banyak kerabat keluarga yang sudah menjadi warga Balikpapan. Saya ditemani bibi, adik perempuan ayah dengan menumpangi kapal penumpang milik keluarga rute Pare-pare - Balikpapan. Paman, adik ayah saya bekerja sebagai nakhoda di kapal tersebut. Jadi kami mendapat keistimewaan bisa berangkat tanpa harus beli tiket. Hal ini sudah menjadi jatah bagi siapa saja keluarga dekat bila ada yang ingin melakukan perjalanan menuju Balikpapan. Inilah pengalaman pertama bagi saya menaiki kapal laut. Ombak saat itu cukup besar, jadi saya shalat dalam posisi duduk. Jika shalat dengan posisi betdiri, kemungkinan bisa kehilang keseimbangan. Di sepanjang perjalanan saya baca buku "Fiqih Wanita" yang sengaja saya bawa dari rumah. Bagian yang paling menjadi perhatian saya yaitu masalah hijab (jilbab), tentang zina, tata cara mandi wajib, perihal najis, hadas. Khusus pada masalah hijab dan zina, keduanya sangat related. Wanita yang sudah baligh wajib menutup aurat dengan kaidah yang benar. Salah dua tujuan menutup aurat adalah untuk memuliakan wanita, menghindarkan dari perbuatan zina. Diceritakan juga ganjaran yang sangat berat di akhirat nanti bagi wanita yang tidak mau menutup auratnya. Pada bagian ini hati saya berdesir dan sangat takut jika melanggar kewajiban tersebut. Selain itu, aturan tentang zina sangat dan tegas disampaikan dalam Al Quran :

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلً


Artinya: "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra: 32).

Sudah menjadi value di masyarakat bahwa orang yang berpacaran sudah termasuk melakukan perbuatan zina. Termasuk keyakinan orang tua saya tentang hal ini. Makanya saya dan adik perempuan diwanti-wanti tidak boleh sering keluar rumah (keluyuran) kecuali untuk urusan penting saja. Kalau sekedar mau main atau rekreasi harus ada orang dewasa seperti guru yang ikut dalam rombongan. Jika tida ada, saya atau adik tidak boleh ikut. Suka tidak suka kami harus patuh. Dan menurut saya, aturan tersebut sangat beralasan sehingga kami secara sadar menjalankannya.

Akhirnya libur panjang sudah selesai, kami kembali masuk sekolah dengan semangat serta pengalaman liburannya masing-masing. Usai membaca buku Fiqih Wanita tersebut, saya merasa lebih tenang, berjanji terhadap diri sendiri tidak ingin pacaran juga tidak ingin melepas hijab ketika keluar rumah bahkan ketika di dalam rumah jika ada muhrim. Gairah belajar saya juga meningkat. Ketika jam istirahat saya memilih tetap di dalam kelas. Terkadang sambil menyelesaikan soal-soal latihan di buku paket, atau baca-baca materi pelajaran. Tak jarang teman mempertanyakan perubahan perilaku saya yang menjadi lebih pendiam dari sebelumnya serta jarang keluar ruangan. Saya jawab senyum saja, dan melanjutkan aktifitas yang sempat terhenti. Saya masih ikut ngobrol dengan teman perempuan tapi tidak tahan berlama-lama.

Alhamdulillah perubahan sikap dan kebiadaan saya membuahkan hasil. Selama di bangku kelas 3 SMA peringkat 1 selalu ada di tangan saya. Oh iyah, saya di rumah juga lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar. Tapi untuk mengerjakan tugas domestik saya benar-benar tidak menikmati alias malas. Sepertinya saya tidak suka pekerjaan rutin seperti itu. Akhirnya, saya kadang sengaja serius belajar hingga larut malam biar lolos dari tugas dalam rumah, ah jadi malu. Jangan ditiru ya, it is not good! Awalanya rajin belajar sebagai pelarian, tapi lama-kelamaan jadi suka. Saya jadi betah mengerjakan soal-soal persiapan ujian ketimbang beres-beres rumah. Bukan tidak ingin membantu, tapi memang tidak nyaman mengerjakannya. Nah, disini saya mulai menemukan diri saya yang tidak suka pekerjaan rutin di dalam rumah.

Bersambung......


Selasa, 04 Januari 2022

Putih abu-abu #1

Banyak yang bilang kalau masa SMP (Sekolah Menengah Pertama) adalah masa dimana anak mulai mengalami puber. Bagi perempuan sudah mengalami menstruasi, sementara laki-laki terjadi perubahan suara dan perubahan fisik lainnnya sebagai tanda pertumbuhan organ reproduksi. Saya mengalami menstruasi awal pada usia 12 tahun atau kelas 1 SMP. Sebelum saya mendapat haid pertama, teman satu bangku di kelas sudah mengalaminya lebih duluan. Dari dialah saya mendapatkan cerita seperti apa rasanya mengalami haid itu. Yang saya ingat, ia bilang sebelum datang haid perut bawah terasa mules. Ia sempat kaget ketika mendapati darah di pakaian dalamnya. Lalu ia sampaikan kepada ibunya, kemudian diberitahu  agar rajin mencuci pakaian yang terkena darah haid. Mengetahui teman sudah mendapat menstruasi, saya jadi penasaran seperti apa yah rasanya mengalami haid? Saya jadinya ingin segera merasakan haid. Setiap merasakan mules di perut langsung berpikir jangan-jangan saya mau haid. Haha ternyata belum juga. Minggu demi minggu penantian, akhirnya yang ditunggu-tunggu terjadi juga. Saya tidak kaget ketika mengetahui hal tersebut karena memang sudah dinantikan dan pengetahuan agama tentang keputrian sudah kami dapatkan di sekolah. Yang terpikir ketika mendapat haid pertama "waah dosa saya sudah mulai kehitung". Ada rasa ingin lebih hati-hati dalam bertindak, takut meninggalkan shalat lima waktu. Selain itu, juga timbul rasa ingin terlihat cantik, kulit yang putih, jadi saya sempat coba memakai skin care milik sepupu. Yang saya pakai waktu itu krim siang dan malam. Awalnya sih cocok-cocok saja. Tapi lama-kelamaan kulit wajah saya bermasalah. Muncul jerawat di bagian dahi yang cukup banyak. Akhirnya saya menyesal dan berhenti memakai kosmetik apa pun. Alhamdulillah jerawat yang muncul mereda tapi tidak sembuh sepenuhnya. Masih kadang muncul satu atau dua jerawat di tempat yang sama.

Di usia SMP saya mulai merasa tidak percaya diri, terlebih lagi pernah mendapat perlakuan bully fisik. Saya menjadi sosok pemalu untuk tampil di depan umum kecuali karena terpaksa, atau tampil bareng teman lainnya. Ketika tampil sendiri di depan kelas, perasaan saya seolah-olah semua teman memandang wajah saya dan memperhatikan bagian yang buruk lalu ingin mengejek saya. Saya baru menyadari, ternyata pikiran atau asumsi seperti itu dinamakan overthinking. Krisis percaya diri ini berlangsung lama, bahkan hingga kuliah yang benar-benar mempengaruhi gestur saya ketika berbicara dengan orang lain. Sungguh tidak nyaman membawa perasaan itu kemana-mana. Alhamdulillah, meskipun demikian saya terbilang berprestasi dalam bidang akademik sejak bangku SD. Kalau sekolah jaman dulu masih pakai sistem rangking, posisi saya pada rangking 1, 2, 3 secara bergantian dengan teman lainnya. Beda cerita untuk bidang olah raga, saya tidak suka kegiatan fisik kecuali karena terpaksa. Bila ada jadwal mata pelajaran olah raga, saya senang tapi hanya karena bisa beraktifitas di luar ruangan, selebihnya tidak haha. Akhirnya pada tahun 1995 saya dan teman lainnya tamat SMP, yeeeehh siap-siap ganti seragam.
Bersambung.....

Senin, 03 Januari 2022

Keluargaku Inspiratorku #2

Kakak pertama, selain menguasai beberapa bahasa asing ia juga rajin baca buku. Setiap liburan sekolah, ketika ia pulang ke rumah waktu luangnya dihabiskan dengan membaca buku. Keluarga lebih mengenalnya sebagai orang pendiam dan kurang bergaul. Kakak jarang ikutan ngobrol ketika ada kerabat yang berkunjung. Ia lebih asik dengan buku bacaannya. Itulah sisi sosial kakak saya ketika masih SMA. Sekarang setelah berkeluarga sudah terjadi banyak perubahan.

Beberapa gerakan sosial yang ia inisiasi, salah satunya adalah ia mendirikan asosiasi petani nira di kampung sebagai bentuk peduli akan produktifitas gula nira di kampung.
Beliau membuat rancangan mesin pengolah gula nira atau gula aren yang sekarang sudah digunakan petani di kampung sebagai aset desa. Kakak juga berhasil merancang mesin listrik untuk menyangrai kopi yang menggunakan tungku dari tembikar. Dengan mesin tersebut lahir produk kopi sangrai dengan brand miliknya. Rancangan mesin sangrai tersebut sudah tercatat di badan HAKI (Hak Kekayaan Intelektual). Kakak pertama salah seorang yang menjadi idola dalam hidup saya, khususnya dalam hal motivasi belajar. Beliau tipe pembelajar yang gigih dan senang merancang mesin kemudian mewujudakannya sebagai barang berguna. Dari sosok beliaulah saya terinspirasi ingin mencapai banyak hal terutama ingin berprestasi dalam bidang akademis, agar nantinya tidak sulit mendapatkan lapangan kerja.

Nah sekarang giliran kakak kedua. Karakter kakak kedua ini berbeda 180 derajat dengan kakak pertama. Kakak kedua memiliki kemampuan sosial yang tinggi. Temannya cukup banyak dan mudah masuk di kalangan semua usia. Kakak kedua sangat senang membuat cerita lelucon ketika kumpul bersama keluarga atau temannya. Menjalani hari lebih santai. Salah satu keterampilan yang dimilikinya adalah membuat rancangan rumah sesuai permintaan pemesan. Dari sosok kakak kedua ini saya banyak belajar bagaimana menghadapi hidup secara santai dalam situasi apa pun.

Idola saya yang satu ini adalah adik bungsu. Banyak yang mengira kalau kami saudara kembar dari melihat postur tubuh kami berdua yang hampir sama. Kalau dari wajah tidak identik. Jarak umur kami memang sangat dekat, hanya terpaut kurang dari 1 (satu) tahun. Kebayang bagaimana mama dulu mengurus kami berdua. Adik saya dalam hal pekerjaan domestik terbilang gesit dan resik. Pemikirannya juga lebih cepat dewasa. Ia sangat antusias mempelajari ilmu agama seperti ilmu tajwid, bahasa Arab, dan sebagainya. Jiwa dagang dari mama menurun kepadanya. Cukup pandai melihat peluang ditambah kepiwaiannya mengelola keuangan. Dari sosok adik saya inilah, saya belajar bagaimana idealnya menjadi seorang istri yang memuliakan suami, menjaga keseimbangan kualitas kegiatan dunia dan akhirat. Beliau juga memilih jalur pendidikan agama bagi anak-anaknya.

Alhamdulillah ala kulli hal. Sesungguhnya cerita di atas dan yang sebelumnya hanyalah sekelumit tentang bagaimana karakter orangtua dan saudara-saudara saya yang baik secara langsung maupun tidak, telah banyak memberi pengaruh dalam hidup saya. Bagaimana cara saya mengambil keputusan serta menyikapi berbagai perubahan  yang terjadi saat ini, tidaklah lepas dari buah didikan orang tua serta pengaruh perilaku positif dari saudara selama tinggal bersama.
Sementara orang terdekat tapi bukan saudara, yang juga banyak memberi andil pada perubahan baik dalam diri saya adalah SUAMI. Tentang tema ini akan saya ceritakan pada episode khusus.

Family Strategic Planning (FSP) 2025 Part 2

  Pada 11 Januari 2025, Sabtu kemarin adalah perdana kami lakukan forum keluarga secara sengaja untuk membahas peta keluarga. Sehari sebelum...