Jumat, 03 Januari 2025

Anak Kelima, masih Baby Blues?

Saat ini saya berusia 44 tahun. Telah dikaruniai 5 (lima) orang anak. Qodarullah putri pertama kami telah wafat jelang usianya 2 (dua) bulan yang didahului oleh kondisi medis (sakit). Saya free 6 (enam) bulan kemudian Allah percayakan kembali kepada kami, akhirnya saya mengandung anak kedua yang kemudian lahir dengan selamat, kondisinya sehat dan proses melahirkan secara normal dan lancar. Secara berturut lahir anak kami ketiga, keempat dimana jarak setiap anak hanya terpaut usia 20 (dua puluh) bulan. Pada kelahiran anak keempat inilah kami memutuskan menggunakan alat KB, pertimbangan utamanya adalah masalah kesehatan fisik saya sebagai ibu dan ketahanan diri untuk merawat, mengasuh serta mendidik 3 (tiga) anak sekaligus pada saat itu.

Program KB saya jalani selama 5 (lima) tahun. Nah berjalan di tahun kelima ini muncul gejala tidak nyaman pada area reproduksi sebagai efek penggunaan alat KB tersebut. Akhirnya saya sepakat dengan suami memutuskan tidak lagi menggunakan alat KB melainkan memilih program KB dengan cara alami. Hal ini juga didukung oleh kondisi dan siklus menstruasi saya yang teratur. Kami menyadari bahwa program KB alami yang kami tempuh memiliki peluang gagal dengan kata lain kemungkinan besar tetap bisa hamil. Resiko ini sudah kami pertimbangkan dan harus siap dengan konsekuensinya yaitu harus siap jikalau ALLAH mengamanahkan lagi hadirnya anak. 

Alhamdulillah cara alami yang kami tempuh berjalan efektif selama kurang lebih 4 (empat) tahun. Tepat beberapa pekan berlangsungnya wabah Covid yakni sekitar bulan Mei 2020, saya iseng saja melakukan tes kehamilan menjelang shalat Subuh. Sebelumnya secara fisik saya merasa kurang nyaman tidak seperti biasanya. Setelah tes, ternyata alat tersebut menunjukan hasil positif. Dalam hati saya yakin, “sudah hamil nih!”. Saya terduduk di kursi ruang tamu, lalu menunjukkan hasil alat tes tersebut ke suami dengan wajah syok karena tidak menyangka, kok KB alami sudah berjalan 4 (empat) tahun kenapa kali ini gagal? Mungkin suami juga memiliki perasaan yang sama, tapi beliau lebih realistis. Beliau menyemangati saya dan mengatakan “yaaah konsekwensi ini harus kita terima dengan ikhlas dan sambut bahagia. Bisa jadi ini tanda bahwa Allah menilai kita mampu menambah anak yang kelak menjadi umatNya yang bermanfaat, aamiin!”. Saya setuju dengan pernyataan suami. Pilihannya saya berusaha menghadirkan perasaan dan pikiran positif. Membuang jauh-jauh pikiran negatif seperti perasaan menolak karena tidak ingin memberi dampak kurang baik pada perkembangan anak kami nantinya. Yang menjadi fokus kami adalah bagaimana menjalani kehamilan dengan aman, sehat, bahagia pada masa pandemi covid pada saat itu.

Tentunya keruwetan hampir sama yang dialami oleh semua orang pada masa itu. Berbagai tekanan psikis, financial, dan lainnya menjadi tantangan tersendiri yang tentu tidak mudah kita hadapi tanpa saling menguatkan dalam keluarga. Alhamdulillah saya menjalani kehamilan pada usia yang tidak muda lagi yakni usia 40 tahun. Problem kekuatan fisik sudah pasti. Yang saya lakukan adalah beradaptasi dengan kondisi tersebut. Saya akui bahwa hamil di usia “kepala empat” yang orang bilang bukan usia muda lagi memang sangat menantang. Apalagi saya dengan kondisi fisik pada bagian otot perut -jika hamil bentuknya menggantung- bagi orang awam mengatakan ototnya lemah. Kondisi ini membuat saya tidak cukup leluasa bergerak lebih terasa pada hamil anak kelima ini. Apalagi saat usia-usia kehamilan sudah di atas 4 (empat) bulan. Beberapa ketidaknyamanan yang saya rasakan seperti : otot punggung dan perut cepat lelah saat berdiri, tidak mudah mengubah posisi tidur, tidur jadi tidak nyaman dan beberapa keluhan ringan lainnya yang tidak begitu terasa ketika hamil di usia lebih muda. Jadi lebih banyak dipengaruhi pada kekuatan fisik.

Pada pengecekan terakhir oleh dokter, kami menerima saran beliau untuk segera menjadwalkan  kelahiran pada usia bayi sekitar 37 minggu. Pertimbangannya adalah berat bayi cukup, perkembangan organ bayi sudah siap lahir, kondisi fisik saya dan melahirkan melalui tindakan operasi sesar sudah kali keempat dapat berpotensi bahaya jika harus menunggu tanda kelahiran secara alami. Alhamdulillah setelah memenuhi prosedur yang super ketat, proses melahirkan anak kelima saya jalani melalui tindakan operasi sesar berjalan lancar, kondisi bayi juga sehat. Karena masih pandemi, hanya kami berdua, saya dan suami tentunya dengan bayi yang diperbolehkan berada di ruang inap perawatan rumah sakit. Kala itu perasaan cemas akan tertular virus covid cukup menghantui, terutama cemas jikalau virus tertular ke bayi. Ikhtiar yang kami lakukan adalah benar-benar menaati prosedur pencegahan tertular virus seketat mungkin.

Periode observasi dan perawatan pasca operasi sesar telah selesai, kami pun pulang ke rumah. Ada hal baru yang harus kami hadapi, yakni seminggu sebelum saya melahirkan suami mendapat SK (Surat Keputusan) Mutasi ke kantor pusat. Saat itu kami tinggal di Pekanbaru sementara kantor pusat berada di Jakarta. Kondisi tersebut menjadi tantangan baru lagi bagi saya setelah tantangan kehamilan di usia tidak muda lagi. Selama kehamilan-kehamilan sebelumnya, setiap melahirkan saya pasti ditemani oleh keluarga : suami, orang tua maupun mertua. Namun saat pandemi keadaan tersebut tidak memungkinkan. Satu pekan pasca melahirkan suami sudah harus efektif bekerja di tempat yang baru, sehingga ia harus tinggal di Jakarta sendiri sambil menunggu waktu yang tepat kami boyongan sekeluarga ikut pindah. Tak ada pilihan selain saya harus adaptasi mengurus sendiri bayi yang masih merah, sambil memandu ketiga anak lainnya sekolah secara online. Dalam kondisi ini saya merasa berjuang sendiri yang akhirnya memicu gejala Baby Blues terjadi. Tanpa terasa saya sering menangis tiba-tiba karena merasa sepi, tiba-tiba timbul perasaan cemas, takut ketika bayi sudah menyusu tapi tetap nangis. Banyak ketakutan, kecemasan lainnya yang menghantui terlebih lagi ketika saya ingat momen kehilangan anak pertama. Setiap suami telepon, saya pasti menangis. Kadang disertai alasan, tapi lebih sering tiba-tiba menangis tanpa alasan. Suami turut cemas melihat kondisi saya seperti itu yang berbeda dengan pasca kelahiran anak-anak sebelumnya. Suami berusaha menguatkan saya dengan mengatakan bahwa saya itu sudah pengalaman karena sudah melewati masa melahirkan dan merawat 4 (empat) anak sebelumnya. Saya yang mengalami langsung juga heran, mengapa hal ini kok bisa terjadi? Disitulah saya mulai berpikir bahwa mungkin inilah yang disebut Baby Blues.

Tidak ingin larut dalam kecemasan maka saya berusaha mendapatkan informasi valid dengan membaca artikel-artikel medis terkait kondisi bayi dan persoalannya. Hal-hal apa yang perlu diperhatikan, bagaimana penanganan pertama jika terjadi suatu hal yang tidak diharapkan. Dengan membaca artikel tersebut kadang membantu mengurangi kecemasan saya tetapi tak jarang justru menambah kecemasan karena dalam artikel juga dituliskan kondisi-kondisi bayi yang fatal. Hal ini malah menambah overthinking yang kerap terjadi pada diri saya. Jadi mom… perlu juga menyaring informasi mana yang ilmiah dan seperlunya saja, serta bermanfaat bagi kesehatan mental diri kita. Tidak berhenti pada langkah ini, saya mencari solusi berikutnya, yakni bercerita atau ngobrol ke sesama ibu yang juga sedang memiliki bayi. Menceritakan perilaku bayi saya yang menjadi sumber kekhawatiran saya. Mereka pun ternyata mengalami hal yang sama bahkan perilaku bayi mereka yang diceritakan jauh lebih mengkhawatirkan dari yang saya alami. Dengan ngobrol seperti ini, saya merasa lebih terbantu dan optimis karena selain mereka menceritakan masalahnya, mereka juga menyampaikan bagaimana mengambil tindakan solusi ketika sang bayi sedang tidak baik-baik saja yang kemudian langkah itu berhasil. Suatu waktu saya juga ngobrol ke seorang teman, ibu muda yang sudah hampir setahun melahirkan. Dari obrolan tersebut saya jadi tahu kalau ternyata ia mengalami depresi berat pasca melahirkan. Tentunya hal ini jauh lebih berat dari yang saya alami. Masyaallah perjuangan si ibu muda beserta suami yang senantiasa saling support sehingga seiring waktu berjalan akhirnya depresi si ibu dapat teratasi dan kini sang anak tumbuh normal dan sehat. Meskipun mengalami mood yang up and down pasca melahirkan, saya tetap punya semangat ingin mengembangkan diri dengan mengikuti sebuah kelas belajar online. Kelas tersebut mengangkat tema bagaimana mengelola Keluarga secara ideal sehingga menjadi sebuah keluarga yang kompak seperti TIM bukan hanya sebagai kerumunan orang. Keputusan ini cukup efektif juga karena mampu membuat pikiran saya tidak berfokus pada hal-hal yang dapat membangkitkan gejala Baby Blues muncul seperti yang saya tuliskan sebelumnya.

Bersyukur sekali untuk urusan domestik saya dibantu seorang asisten rumah tangga (art) pulang pergi. Kebetulan letak rumahnya tidak jauh dari rumah kami. H-1 bulan Ramadhan tahun 2021, saat bayi saya belum berusia 1 (satu) bulan, terjadi musibah yang membuat kami syok. Art sedang dalam perjalan menuju rumah kami untuk bekerja seperti biasa, ia mengalami kecelakaan yang cukup fatal. Ditabrak seorang pengemudi motor yang menyebabkan salah satu tangan dan paha art kami patah, innalillah. Dalam kondisi ini yang terpikirkan pertama adalah tindakan penanganan art untuk segera mendapatkan pertolongan medis. Alhamdulillah atas bantuan mantan staf suami di kantor sebelumnya, sehingga proses bantuan dan perawatan medis art kami sudah dilakukan. Berdasarkan kondisinya perawatan tersebut akan berlangsung hingga beberapa bulan kedepan. Kini yang harus saya persiapkan bagaimana menjalani hari-hari berikutnya. Besok adalah hari pertama puasa dimana tiba-tiba tanpa art, suami maupun keluarga berada jauh dari kami. Izin terbang juga sangat ketat karena masih pandemi. Bersyukur anak-anak sekolah daring setidaknya lebih meminimalkan mobilisasi karena semua dikerjakan didalam rumah. Alhamdulillah anak-anak ternyata cukup paham dengan situasi yang sedang terjadi. Mereka jauh lebih kooperatif. Saya dan anak-anak berbagi tugas domestik menyesuaikan kemampuan anak masing-masing. Anak kami yang sudah SMP sudah dapat diandalkan melakukan aktifitas dapur ketika adik bayi rewel. Sementara kegiatan beres-beres, cuci piring dan jemur kain semua dapat tanggung jawab sesuai kapasitasnya masing-masing. Rutinitas seperti ini kami jalankan hampir sebulan. Begitu banyak hikmah pembelajaran baik bagi kamil dibalik peristiwa yang tidak nyaman ini. Sebelumnya saya sering uring-uringan (baby blues), justru pada kondisi tersebut mental saya jauh lebih kuat. Mungkin karena lebih fokus memikirkan bagaimana mengatasi persoalan perubahan keadaan dari sebelumnya ada art kemudian tanpa support system itu lagi.

Kepada semua ibu yang baru saja melahirkan sedang merasa tidak baik-baik saja, jangan sungkan ceritakan hal itu ke teman atau ahli yang dapat membuat kalian menemukan solusi dan menjalani hidup lebih optimis. Fokus yaah kepada solusi, jangan berlarut dalam masalahnya. SEMANGAAATT KAMU BISA !!!

Rabu, 25 Desember 2024

Perjalananku melihat kedalam diri #2

Pada H-2 niat ingin mengikuti acara wokrshop saya sampaikan kepada suami, termasuk perihal biaya yang sudah saya bayarkan. Suami tidak melarang, artinya boleh walaupun ia hanya mengatakan "oke"😀. Workshop akan berlangsung pada hari Sabtu. Ternyata pada hari Jumat malam, kami kedatangan tamu yakni kakak suami yang tinggal di Gorontalo. Kebetulan beliau sedang melakukan perjalanan dinas di kota tempat kami berada. Beliau pun datang ke rumah untuk menginap sebelum kembali ke kota tempatnya.

Bersyukur tamu adalah bukan orang lain, sehingga saya tidak perlu membatalkan rencana untuk mengikuti acara workshop. Pada hari Sabtu pagi, setelah menyiapkan sarapan saya minta ijin mengikuti acara workshop, ternyata kakak ipar juga sudah bersiap menuju bandara.
Saya diantar suami ke lokasi workshop di sebuah hotel. Ternyata lokasi hotel tersebut cukup dekat dari rumah kami.

Oh iyah, sekitar dua hari sebelum acara, saya mendapat sejumlah tes tulis dan berbatas waktu harus saya kerjakan. Hasil tes itu yang menjadi petunjuk penilaian assesment tentang diri saya. Pada awalnya saya kurang fokus karena menjawab sejumlah pertanyaan sambil melakukan pekerjaan lain, bahkan pada saat itu saya sedang konsultasi dengan dokter anak. Kebetulan anak saya sedang kurang sehat. Akibatnya saya menjawab sekenanya. Yang menjadi ganjalan dalam pikiran saya, adalah inginnya mengetahui tentang pribadi anak, tapi mengapa justru saya yang harus menjalani tes.

Rabu, 20 Juli 2022

Perjalananku melihat kedalam diri

Sungguh saya tidak mengerti bahwa diri pun harus dikenal. Orang sekarang biasa memberi istilah "Pengenalan Diri". Saya baru menyadari tentang hal ini beberapa tahun terakhir. Meskipun proses yang dijalani dalam kehidupan sebenarnya sudah menjadi bagian dari "pengenalan diri" itu.

Pada tahun 2017 terjadi skenario Allah yang benar-benar tidak pernah terlintas dalam pikiran apalagi menjadi rencana saya. Bermula saya mengenal seorang ibu, yakni istri dari rekan sejawat suami. Beliau beserta keluarganya baru saja pindah kantor dimana suami saya juga berkantor. Pada suatu hari beliau dan keluarganya datang ke rumah untuk bersilaturahmi. Disitulah saya mulai mengenalnya dan akhirnya kami sering kontakan melalui whatsapp.

Saya mengenal beliau adalah reseller buku-buku bacaan Islami dan buku-buku edukasi lainnya. Bukan hanya buku, beliau juga menjual berbagai permainan edukasi buat anak-anak. Disitu saya mengenal beliau punya hobi membaca dan kebiasaan ini ia bangun dalam diri anak-anaknya. Saya mulai tertarik pada kebiasaan baik tersebut sehingga perlahan saya membeli buku paketan darinya.

Suatu waktu, saya lupa pada momen apa beliau menyampaikan tentang sebuah acara workshop berbayar. Tema workshop adalah tentang bakat, judul persisnya "Workshop Talents Mapping". Saya begitu tertarik dengan acara ini. Alasannya adalah saya ingin mengetahui ilmu bakat untuk anak-anak saya. Jadi alasan utama saya ingin mengikuti acara tersebut adalah untuk Anak bukan untuk diri saya.

Saya mulai serius menanyakan beberapa hal tentang acara tersebut. Kemudian beliau mengirim e-flyer lengkap dengan informasi lainnya terkait acara tersebut. Wah ternyata batas pendaftaran sisa dua hari lagi. Tetiba pikiran saya tertuju pada besar biaya acaranya. Nilainya mendekati Rp 1juta. Pada saat itu cara pengelolaan keuangan saya masih amburadul. Saya lupa menyisipkan dana setiap bulan untuk keperluan pengembangan diri saya. Belum lagi info workshop tersebut saya tahu menjelang akhir bulan. Otak saya mulai berputar, bagaimana cara mendapatkan dana untuk membayar biaya pendaftaran. Sementara saya segan meminta lagi dana tambahan kepada suami karena dana yang diberikan setiap bulan seharusnya sudah lebih dari cukup.

Tiba-tiba muncul ide saya untuk menjual salah satu barang investasi milik saya sendiri yakni cincin emas. Esok hari, saya ke pasar untuk belanja kebutuhan dapur sekalian melangsungkan niat tersebut. Alhamdulillah cincin terjual, dana cash sudah ada di tangan. Saya pulang, dalam perjalanan menuju ke rumah saya mampir dulu di atm untuk memasukkan dana tunai ke rekening saya.

Sehari pendaftaran tertutup, saya lakukan pembayaran ke pihak penyelenggara workshop melalui transfer. Bismillah saja, mudah-mudahan mendapat ijin mengikuti workshop itu. Kegiatan ini belum saya beritahukan kepada suami. Beliau cukup sibuk kala itu karena ada proyek pekerjaan di kantor tempatnya bekerja. Beberapa hari menjelang hari H baru saya sampaikan rencana tersebut. Bersyukur acara workshop diadakan pada akhir pekan sehingga beliau bisa menjaga anak-anak di rumah selama saya mengikuti acara workshop.

Bersambung...
Tangsel, 200722
Mom 4F


Senin, 20 Juni 2022

Tukang Jahit Keliling

Pagi itu saya sedang menggendong si bungsu yang berusia 1 tahun 3 bulan. Bayi sudah sarapan dan mandi pagi. Menggendongnya di dekat jendela agar bayi bisa melihat keluar dengan pemandangan yang sangat terbatas. Halaman rumah yang  tidak seberapa luas. Sudah tidak ada lahan berupa tanah sedikitpun kecuali area yang berada di belakang pagar. Pada area inilah terdapat beberapa batang tanaman palem bercampur dengan tanaman yang biasanya difungsikan sebagai pagar bertumbuh. Kami menempati rumah kontrakan dimana pemiliknya lebih memilih memperluas bangunan permanen daripada bagian green living_nya. Yah lahan untuk sebuah perumahan di kota besar, sebut di Tangerang tepatnya di daerah Bintaro sudah terbatas. Jikalau pun memilih area yang luas pasti harganya juga mahal. Di depan rumah terdapat jalan yang lebih sempit dari jalan lainnya karena dibatasi oleh dinding tembok pembatas blok rumah lainnya. Akhirnya jalan tersebut hanya bisa dilalui oleh satu mobil secara lapang. Jika berpapasan dengan mobil lain, maka salah satunya harus berhenti dulu dan menepi ke pagar rumah yang dilalui.

Yah seperti itulah pemandangan yang bisa kami nikmati dari dalam rumah.

Sedang asyiknya melepas pandangan, tiba-tiba melintas motor tukang jahit keliling. Ia mengendarai motornya tidak cepat juga tidak lambat.

Muncul rasa penasaran, bagaimana tukang jahit keliling itu menjalankan mesin jahitnya. 


Apakah pakai dinamo?

Bagaimana posisi mesin tetap stabil ketika digunakan?

Si tukang jahit bisa buat baju gak yah?


Apa saya berhentikan saja tukang jahit itu, pasti sedang butuh pendapatan.

Tukang jahit melaju dan melewati rumah kami. Tiba-tiba berbalik arah setelah melewati satu rumah. Mungkin Bapak itu berpikir sedang tidak ada yang butuh jasa jahitnya ditambah ujung jalan blok tempat kami ditutup dengan palang sejak terjadi pandemi covid-19.

Ah kasihan Bapak ini, saya panggil saja untuk minta bantu potong dan jahit. Kebetulan punya outer (cardigan panjang) dan celana kulot milik anak yang kepanjangan. Sebenarnya saya bisa saja memotong dan menjahit sendiri pakaian itu, tapi rasanya ingin membantu Bapak tukang jahit tersebut, ditambah rasa penasaran dengan cara kerjanya seperti apa.


"Pak-pak!" Teriak saya memanggil dari balik jendela. Bapak itu pasti tidak melihat saya, yang penting suara saya terdengar olehnya. Sengaja memilih posisi tersembunyi karena belum memakai jilbab.

Setelah tukang jahit berhenti, saya minta menunggu dulu.  Dijawab "Iya bu!".

Saya naik ke lantai dua, memakai jilbab dan mengambil dua cardigan terlebih dahulu biar Bapaknya tidak menunggu lama. Saya serahkan cardigan itu ke tukang jahit.

"Bu, potongnya berapa cm?" Tanya beliau

"Hmm potong 5 cm aja!" Ucap saya.

"Segini yah bu 5 cm itu!" Sambil menunjukkan meter kain kepada saya.

"Tambah deh pak, potong 6 cm!" Ucap saya lagi.

"Baik ibu, 6 cm yah!" Kata si Bapak.

"Pak cardigan yang ini 6 cm juga yah!" Sambil saya pegang cardigan yang saya gantung di pintu pagar, dekat dari posisi Bapak itu berhentikan motornya.

"Pak saya ambil satu barang lagi, tunggu yah!" Kata saya.

Bapak itu pun mengiyakan sambil memotong cardigan pertama. Saya cukup takjub melihat bagaimana Bapak itu memotong cardigan sambil berdiri. Kedua kakinya difungsikan untuk menjaga agar posisi motor tetap stabil dan tambahan satu tongkat penopang pada bagian mesin. Terlihat Bapak itu lincah mengerjakannya meskipun sambil berdiri.

Setelah memperhatikannya sejenak, saya segera mengambil celana kulot yang mau dipotong. Saya lipat ujung celana sebagai tanda batas bagian yang harus dipotong.

Menanti cardigan kedua diselesaikan, celana kulot saya gantung di pintu pagar.

Kami kemudian ngobrol, sambil menanti Bapak menyelesaikan pekerjaannya.

Saya : "Bapak bisa buat baju?"

Bapak : "Tidak bisa bu, saya hanya bisa menjahit!"

Saya : "Oh gitu, Bapak kok bisa menjahit?"

Bapak : "Dulu saya kerja di garmen sebagai buruh jahit bu, trus berhenti!"

Saya : "Kenapa Bapak berhenti?"

Bapak : "Gak ada waktu istirahat bu!"

Saya : "Oh banyak jahitan ya pak. Kalau buat baju, Bapak bisa?"

Bapak : "Kagak bisa bu, dulu saya hanya jahit pola yang sudah digunting."

Saya : "Sudah berapa lama Bapak kerja seperti ini?"

Bapak : "lima tahun!"

Saya : "Sudah lama juga ya pak. Oh yah saya ijin ambil gambar dan video Bapak yah!"

Bapak : "Silahkan bu!"


Bapak tukang jahit keliling memotong celana kulot. Ia lakukan sambil berdiri agar posisi motor tetap stabil meskipun sudah ada tongkat tambahan sebagai penopang pada bagian meja mesin jahit. Meskipun dalam posisi demikian, hasil guntingannya lurus sesuai ukuran yang saya minta.

Saat menjahit, kaki kanan si Bapak yang menginjak pedal roda mesin. Pada saat menjahit kadang tongkat penopangnya lepas. Namun beliau tetap bisa meneruskan jahitannya. Pada awalnya saya kira mesin menggunakan dinamo dengan tenaga aki dari motor. Ternyata mesin jahitnya manual. Saya takjub melihat hasil jahitnya. Rapih! Padahal beliau lakukan sambil tetap menahan posisi motor tetap stabil.

Terima kasih Bapak, sudah mengerjakannya dengan sangat baik. Tarif jasa potong satu baju Rp 15.000,-.

Saya berasumsi sepertinya Bapak ini mendapat pendapatan lebih besar dengan bekerja sebagai tukang jahit keliling daripada bekerja sebagai buruh jahit di garmen. Dari segi waktu, beliau juga lebih fleksibel. Jaman sekarang orang sudah lebih memilih belanja online di marketplace. Ukuran pakaian yang terbeli tidak selalu sesuai atau pas di badan, misalnya kepanjangan. Maka jasa tukang jahit keliling seperti ini akan terus mendapat pelanggan. Mungkin yang menjadi kendala ketika musim hujan. Karena motor yang digunakan tidak dilengkapi atap yang bisa melindungi mesin dan dirinya dari air hujan.


Sehat selalu Bapak. Semoga mendapat pelanggan setiap hari.


Tangsel, 20 Juni 2022

Mom4F

Selasa, 31 Mei 2022

Disapa virus covid-19#2

Pada hari ketiga, anak kami yang ketiga mulai merasa tidak nyaman. Tenggorokannya sakit dan kepala sedikit pusing. Kami mulai curiga jangan-jangan anak-anak mengalami sakit seperti suami. Semua gejala yang dialami sama. Anak kedua sudah tidak demam. Suami melakukan tes dan anak kedua. Qadarullah semua hasil tes reaktif. Saat itu kami sudah beranggapan bahwa yang sedang sakit terinfeksi virus covid. Untuk mencegah penularan kepada yang sehat, yang sakit tidur di lantai bawah. Untuk sementara saya menghentikan kegiatan masak karena dapur ada di lantai bawah. Tidak memungkinkan bayi, anak kami yang keempat ditinggal sendiri di kamar tanpa ada yang jaga.
Anak ketiga akhirnya mengalami demam tinggi seperti yang dialami suami dan kakaknya.
Lalu pada sore hari, anak pertama yang sedang puasa mengeluh kepala agak pusing dan tenggorokan tidak nyaman. Karena waktu berbuka tidak lama lagi, ia tetap melanjutkan puasanya. Pada malam hari, badannya sudah mulai hangat berlanjut demam tinggi seperti lainnya. Tidak lama berselang si bungsu bayi, badannya juga mulai hangat.
Akhirnya sisa saya yang bertahan dan berharap kondisi tetap fit.
Suami dan anak kedua berangsur pulih. Merek sudah tidak demam lagi, hanya ada batuk sesekali dan tenggorokan masih sakit. Kami bagi tugas, suami yang merawat anak pertama dan ketiga, saya fokus merawat bayi yang sedikit rewel karena merasa kurang nyaman. Alhamdulillah Aanak kedua sudah segar dan sempat mengikuti ujian hari terakhir.
Kami konsumsi obat sesuai kebutuhan saja seperti : obat demam, obat batuk, multivitamin, madu. Semua obat-obatan, supplemen kami pesan secara online di halodoc atau di K24. Untuk makanan kami pesan secara online juga.
Dengan terpaksa tidak ada yang berpuasa dulu.
Semua mengalami demam sekitar dua hari, termasuk bayi. Setelah demam reda, anak yang besar merasa tenggorokan sakit dan sedikit batuk.
Setelah sepuluh hari alhamdulillah suami dan anak-anak sudah pulih. Mereka sudah bisa mulai puasa. Barulah saya yang dapat giliran si virus.
Perasaan tidak nyaman, tenggorokan agak sakit. Pada malam hari badan saya mulai hangat tapi suhunya tidak begitu tinggi, suhu berkisar 37an derajat celcius.
Hal yang membuat paling tidak nyaman adalah badan dan sendi terasa pegal. Rasa pegal ini yang membuat saya sulit tidur. Perasaan menjadi lebih nyaman setelah minum obat paracetamol. Selain minum obat demam, saya juga konsumsi multivitamin. Ternyata vitamin ini memancing gas lambung saya akibatnya selera makan jadi kurang. Pada hari ketiga indra penciuman saya hilang. Demam dan badan pegal sudah tidak lagi, tapi maag dan batuk kering yang mulai muncul. Tenggorokan rasanya gatal sekali terutama pada malam hari. Hal ini yang memamcing saya sering batuk, akibatnya otot perut di bawah dada jadi keram. Kadang ketika batuk, kandung kemih ketekan sehingga air seni pun keluar tanpa bisa tertahan lagi.
Gejala yang kami alami sebenarnya terbilang ringan. Hanya saja batuk yang saya alami 2Pada hari ketiga, anak kami yang ketiga mulai merasa tidak nyaman. Tenggorokannya sakit dan kepala sedikit pusing. Kami mulai curiga jangan-jangan anak-anak mengalami sakit seperti suami. Semua gejala yang dialami sama. Anak kedua sudah tidak demam. Suami melakukan tes dan anak kedua. Qadarullah semua hasil tes reaktif. Saat itu kami sudah beranggapan bahwa yang sedang sakit terinfeksi virus covid. Untuk mencegah penularan kepada yang sehat, yang sakit tidur di lantai bawah. Untuk sementara saya menghentikan kegiatan masak karena dapur ada di lantai bawah. Tidak memungkinkan bayi, anak kami yang keempat ditinggal sendiri di kamar tanpa ada yang jaga.
Anak ketiga akhirnya mengalami demam tinggi seperti yang dialami suami dan kakaknya.
Lalu pada sore hari, anak pertama yang sedang puasa mengeluh kepala agak pusing dan tenggorokan tidak nyaman. Karena waktu berbuka tidak lama lagi, ia tetap melanjutkan puasanya. Pada malam hari, badannya sudah mulai hangat berlanjut demam tinggi seperti lainnya. Tidak lama berselang si bungsu bayi, badannya juga mulai hangat.
Akhirnya sisa saya yang bertahan dan berharap kondisi tetap fit.
Suami dan anak kedua berangsur pulih. Merek sudah tidak demam lagi, hanya ada batuk sesekali dan tenggorokan masih sakit. Kami bagi tugas, suami yang merawat anak pertama dan ketiga, saya fokus merawat bayi yang sedikit rewel karena merasa kurang nyaman. Alhamdulillah Aanak kedua sudah segar dan sempat mengikuti ujian hari terakhir.
Kami konsumsi obat sesuai kebutuhan saja seperti : obat demam, obat batuk, multivitamin, madu. Semua obat-obatan, supplemen kami pesan secara online di halodoc atau di K24. Untuk makanan kami pesan secara online juga.
Dengan terpaksa tidak ada yang berpuasa dulu.
Semua mengalami demam sekitar dua hari, termasuk bayi. Setelah demam reda, anak yang besar merasa tenggorokan sakit dan sedikit batuk.
Setelah sepuluh hari alhamdulillah suami dan anak-anak sudah pulih. Mereka sudah bisa mulai puasa. Barulah saya yang dapat giliran si virus.
Perasaan tidak nyaman, tenggorokan agak sakit. Pada malam hari badan saya mulai hangat tapi suhunya tidak begitu tinggi, suhu berkisar 37an derajat celcius.
Hal yang membuat paling tidak nyaman adalah badan dan sendi terasa pegal. Rasa pegal ini yang membuat saya sulit tidur. Perasaan menjadi lebih nyaman setelah minum obat paracetamol. Selain minum obat demam, saya juga konsumsi multivitamin. Ternyata vitamin ini memancing gas lambung saya akibatnya selera makan jadi kurang. Pada hari ketiga indra penciuman saya hilang. Demam dan badan pegal sudah tidak lagi, tapi maag dan batuk kering yang mulai muncul. Tenggorokan rasanya gatal sekali terutama pada malam hari. Hal ini yang memamcing saya sering batuk, akibatnya otot perut di bawah dada jadi keram. Kadang ketika batuk, kandung kemih ketekan sehingga air seni pun keluar tanpa bisa tertahan lagi.
Gejala yang kami alami sebenarnya terbilang ringan. Hanya saja bagi saya terasa berat karena tidak dapat istirahat total karena meskipun sakit tetap harus kelonin bayiPada hari ketiga, anak kami yang ketiga mulai merasa tidak nyaman. Tenggorokannya sakit dan kepala sedikit pusing. Kami mulai curiga jangan-jangan anak-anak mengalami sakit seperti suami. Semua gejala yang dialami sama. Anak kedua sudah tidak demam. Suami melakukan tes dan anak kedua. Qadarullah semua hasil tes reaktif. Saat itu kami sudah beranggapan bahwa yang sedang sakit terinfeksi virus covid. Untuk mencegah penularan kepada yang sehat, yang sakit tidur di lantai bawah. Untuk sementara saya menghentikan kegiatan masak karena dapur ada di lantai bawah. Tidak memungkinkan bayi, anak kami yang keempat ditinggal sendiri di kamar tanpa ada yang jaga.
Anak ketiga akhirnya mengalami demam tinggi seperti yang dialami suami dan kakaknya.
Lalu pada sore hari, anak pertama yang sedang puasa mengeluh kepala agak pusing dan tenggorokan tidak nyaman. Karena waktu berbuka tidak lama lagi, ia tetap melanjutkan puasanya. Pada malam hari, badannya sudah mulai hangat berlanjut demam tinggi seperti lainnya. Tidak lama berselang si bungsu bayi, badannya juga mulai hangat.
Akhirnya sisa saya yang bertahan dan berharap kondisi tetap fit.
Suami dan anak kedua berangsur pulih. Merek sudah tidak demam lagi, hanya ada batuk sesekali dan tenggorokan masih sakit. Kami bagi tugas, suami yang merawat anak pertama dan ketiga, saya fokus merawat bayi yang sedikit rewel karena merasa kurang nyaman. Alhamdulillah Aanak kedua sudah segar dan sempat mengikuti ujian hari terakhir.
Kami konsumsi obat sesuai kebutuhan saja seperti : obat demam, obat batuk, multivitamin, madu. Semua obat-obatan, supplemen kami pesan secara online di halodoc atau di K24. Untuk makanan kami pesan secara online juga.
Dengan terpaksa tidak ada yang berpuasa dulu.
Semua mengalami demam sekitar dua hari, termasuk bayi. Setelah demam reda, anak yang besar merasa tenggorokan sakit dan sedikit batuk.
Setelah sepuluh hari alhamdulillah suami dan anak-anak sudah pulih. Mereka sudah bisa mulai puasa. Barulah saya yang dapat giliran si virus.
Perasaan tidak nyaman, tenggorokan agak sakit. Pada malam hari badan saya mulai hangat tapi suhunya tidak begitu tinggi, suhu berkisar 37an derajat celcius.
Hal yang membuat paling tidak nyaman adalah badan dan sendi terasa pegal. Rasa pegal ini yang membuat saya sulit tidur. Perasaan menjadi lebih nyaman setelah minum obat paracetamol. Selain minum obat demam, saya juga konsumsi multivitamin. Ternyata vitamin ini memancing gas lambung saya akibatnya selera makan jadi kurang. Pada hari ketiga indra penciuman saya hilang. Demam dan badan pegal sudah tidak lagi, tapi maag dan batuk kering yang mulai muncul. Tenggorokan rasanya gatal sekali terutama pada malam hari. Hal ini yang memamcing saya sering batuk, akibatnya otot perut di bawah dada jadi keram. Kadang ketika batuk, kandung kemih ketekan sehingga air seni pun keluar tanpa bisa tertahan lagi.
Gejala yang kami alami sebenarnya terbilang ringan. Hanya saja bagi saya terasa berat karena tidak dapat istirahat total karena meskipun sakit tetap harus kelonin bayi lebih lama karena tidak dapat istirahat total sebab harus merawat bayi yang masih dalam masa pemulihan. Apalagi saya memiliki riwayat penyakit maag, yang memperparah kondisi tenggorokan saya (memancing ingin batuk). Dalam keadaan demikian saya tetap berusaha makan meskipun tidak ada selera makan sedikit pun. Konsumsi menu bubur ayam hangat atau bubur lainnya membantu menghadirkan selera makan, meskipun makannya belum seperti biasa.
Dari pengalaman terkena covid yang kemungkinan adalah varian omicron, ada beberapa hal yang dapat saya sarankan ketika menjalani isolasi mandiri di rumah :
- Tetap jalankan prokes
- Jangan panik
- Sediakan obat-obatan dan vitamin sesuai kebutuhan seperti : obat demam, obat batuk, multivitamin
- Sediakan suplemen tambahan jika diperlukan seperti : susu, madu
- Tetap makan makanan bergizi dan minum air putih secukupnya
- Sediakan alat oxymeter untuk jaga-jaga
- Jika memiliki dana, beli alat tes rta (rapid tes antigen) untuk lakukan tes mandiri
- Lakukan olah raga ringan dan berjemur pada matahari pagi.

Nah itulah beberapa hal yang kami lakukan selama menjalani isolasi mandiri di rumah. Semoga tetap diberi kesehatan bagi pembaca, dan diberi kesembuhan bagi yang sedang sakit.
Stay Helathy.....
Tangsel, 31 Mei 2022
Mom 4F

Family Strategic Planning (FSP) 2025 Part 2

  Pada 11 Januari 2025, Sabtu kemarin adalah perdana kami lakukan forum keluarga secara sengaja untuk membahas peta keluarga. Sehari sebelum...