Rabu, 25 Desember 2024

Perjalananku melihat kedalam diri #2

Pada H-2 niat ingin mengikuti acara wokrshop saya sampaikan kepada suami, termasuk perihal biaya yang sudah saya bayarkan. Suami tidak melarang, artinya boleh walaupun ia hanya mengatakan "oke"😀. Workshop akan berlangsung pada hari Sabtu. Ternyata pada hari Jumat malam, kami kedatangan tamu yakni kakak suami yang tinggal di Gorontalo. Kebetulan beliau sedang melakukan perjalanan dinas di kota tempat kami berada. Beliau pun datang ke rumah untuk menginap sebelum kembali ke kota tempatnya.

Bersyukur tamu adalah bukan orang lain, sehingga saya tidak perlu membatalkan rencana untuk mengikuti acara workshop. Pada hari Sabtu pagi, setelah menyiapkan sarapan saya minta ijin mengikuti acara workshop, ternyata kakak ipar juga sudah bersiap menuju bandara.
Saya diantar suami ke lokasi workshop di sebuah hotel. Ternyata lokasi hotel tersebut cukup dekat dari rumah kami.

Oh iyah, sekitar dua hari sebelum acara, saya mendapat sejumlah tes tulis dan berbatas waktu harus saya kerjakan. Hasil tes itu yang menjadi petunjuk penilaian assesment tentang diri saya. Pada awalnya saya kurang fokus karena menjawab sejumlah pertanyaan sambil melakukan pekerjaan lain, bahkan pada saat itu saya sedang konsultasi dengan dokter anak. Kebetulan anak saya sedang kurang sehat. Akibatnya saya menjawab sekenanya. Yang menjadi ganjalan dalam pikiran saya, adalah inginnya mengetahui tentang pribadi anak, tapi mengapa justru saya yang harus menjalani tes.

Rabu, 20 Juli 2022

Perjalananku melihat kedalam diri

Sungguh saya tidak mengerti bahwa diri pun harus dikenal. Orang sekarang biasa memberi istilah "Pengenalan Diri". Saya baru menyadari tentang hal ini beberapa tahun terakhir. Meskipun proses yang dijalani dalam kehidupan sebenarnya sudah menjadi bagian dari "pengenalan diri" itu.

Pada tahun 2017 terjadi skenario Allah yang benar-benar tidak pernah terlintas dalam pikiran apalagi menjadi rencana saya. Bermula saya mengenal seorang ibu, yakni istri dari rekan sejawat suami. Beliau beserta keluarganya baru saja pindah kantor dimana suami saya juga berkantor. Pada suatu hari beliau dan keluarganya datang ke rumah untuk bersilaturahmi. Disitulah saya mulai mengenalnya dan akhirnya kami sering kontakan melalui whatsapp.

Saya mengenal beliau adalah reseller buku-buku bacaan Islami dan buku-buku edukasi lainnya. Bukan hanya buku, beliau juga menjual berbagai permainan edukasi buat anak-anak. Disitu saya mengenal beliau punya hobi membaca dan kebiasaan ini ia bangun dalam diri anak-anaknya. Saya mulai tertarik pada kebiasaan baik tersebut sehingga perlahan saya membeli buku paketan darinya.

Suatu waktu, saya lupa pada momen apa beliau menyampaikan tentang sebuah acara workshop berbayar. Tema workshop adalah tentang bakat, judul persisnya "Workshop Talents Mapping". Saya begitu tertarik dengan acara ini. Alasannya adalah saya ingin mengetahui ilmu bakat untuk anak-anak saya. Jadi alasan utama saya ingin mengikuti acara tersebut adalah untuk Anak bukan untuk diri saya.

Saya mulai serius menanyakan beberapa hal tentang acara tersebut. Kemudian beliau mengirim e-flyer lengkap dengan informasi lainnya terkait acara tersebut. Wah ternyata batas pendaftaran sisa dua hari lagi. Tetiba pikiran saya tertuju pada besar biaya acaranya. Nilainya mendekati Rp 1juta. Pada saat itu cara pengelolaan keuangan saya masih amburadul. Saya lupa menyisipkan dana setiap bulan untuk keperluan pengembangan diri saya. Belum lagi info workshop tersebut saya tahu menjelang akhir bulan. Otak saya mulai berputar, bagaimana cara mendapatkan dana untuk membayar biaya pendaftaran. Sementara saya segan meminta lagi dana tambahan kepada suami karena dana yang diberikan setiap bulan seharusnya sudah lebih dari cukup.

Tiba-tiba muncul ide saya untuk menjual salah satu barang investasi milik saya sendiri yakni cincin emas. Esok hari, saya ke pasar untuk belanja kebutuhan dapur sekalian melangsungkan niat tersebut. Alhamdulillah cincin terjual, dana cash sudah ada di tangan. Saya pulang, dalam perjalanan menuju ke rumah saya mampir dulu di atm untuk memasukkan dana tunai ke rekening saya.

Sehari pendaftaran tertutup, saya lakukan pembayaran ke pihak penyelenggara workshop melalui transfer. Bismillah saja, mudah-mudahan mendapat ijin mengikuti workshop itu. Kegiatan ini belum saya beritahukan kepada suami. Beliau cukup sibuk kala itu karena ada proyek pekerjaan di kantor tempatnya bekerja. Beberapa hari menjelang hari H baru saya sampaikan rencana tersebut. Bersyukur acara workshop diadakan pada akhir pekan sehingga beliau bisa menjaga anak-anak di rumah selama saya mengikuti acara workshop.

Bersambung...
Tangsel, 200722
Mom 4F


Senin, 20 Juni 2022

Tukang Jahit Keliling

Pagi itu saya sedang menggendong si bungsu yang berusia 1 tahun 3 bulan. Bayi sudah sarapan dan mandi pagi. Menggendongnya di dekat jendela agar bayi bisa melihat keluar dengan pemandangan yang sangat terbatas. Halaman rumah yang  tidak seberapa luas. Sudah tidak ada lahan berupa tanah sedikitpun kecuali area yang berada di belakang pagar. Pada area inilah terdapat beberapa batang tanaman palem bercampur dengan tanaman yang biasanya difungsikan sebagai pagar bertumbuh. Kami menempati rumah kontrakan dimana pemiliknya lebih memilih memperluas bangunan permanen daripada bagian green living_nya. Yah lahan untuk sebuah perumahan di kota besar, sebut di Tangerang tepatnya di daerah Bintaro sudah terbatas. Jikalau pun memilih area yang luas pasti harganya juga mahal. Di depan rumah terdapat jalan yang lebih sempit dari jalan lainnya karena dibatasi oleh dinding tembok pembatas blok rumah lainnya. Akhirnya jalan tersebut hanya bisa dilalui oleh satu mobil secara lapang. Jika berpapasan dengan mobil lain, maka salah satunya harus berhenti dulu dan menepi ke pagar rumah yang dilalui.

Yah seperti itulah pemandangan yang bisa kami nikmati dari dalam rumah.

Sedang asyiknya melepas pandangan, tiba-tiba melintas motor tukang jahit keliling. Ia mengendarai motornya tidak cepat juga tidak lambat.

Muncul rasa penasaran, bagaimana tukang jahit keliling itu menjalankan mesin jahitnya. 


Apakah pakai dinamo?

Bagaimana posisi mesin tetap stabil ketika digunakan?

Si tukang jahit bisa buat baju gak yah?


Apa saya berhentikan saja tukang jahit itu, pasti sedang butuh pendapatan.

Tukang jahit melaju dan melewati rumah kami. Tiba-tiba berbalik arah setelah melewati satu rumah. Mungkin Bapak itu berpikir sedang tidak ada yang butuh jasa jahitnya ditambah ujung jalan blok tempat kami ditutup dengan palang sejak terjadi pandemi covid-19.

Ah kasihan Bapak ini, saya panggil saja untuk minta bantu potong dan jahit. Kebetulan punya outer (cardigan panjang) dan celana kulot milik anak yang kepanjangan. Sebenarnya saya bisa saja memotong dan menjahit sendiri pakaian itu, tapi rasanya ingin membantu Bapak tukang jahit tersebut, ditambah rasa penasaran dengan cara kerjanya seperti apa.


"Pak-pak!" Teriak saya memanggil dari balik jendela. Bapak itu pasti tidak melihat saya, yang penting suara saya terdengar olehnya. Sengaja memilih posisi tersembunyi karena belum memakai jilbab.

Setelah tukang jahit berhenti, saya minta menunggu dulu.  Dijawab "Iya bu!".

Saya naik ke lantai dua, memakai jilbab dan mengambil dua cardigan terlebih dahulu biar Bapaknya tidak menunggu lama. Saya serahkan cardigan itu ke tukang jahit.

"Bu, potongnya berapa cm?" Tanya beliau

"Hmm potong 5 cm aja!" Ucap saya.

"Segini yah bu 5 cm itu!" Sambil menunjukkan meter kain kepada saya.

"Tambah deh pak, potong 6 cm!" Ucap saya lagi.

"Baik ibu, 6 cm yah!" Kata si Bapak.

"Pak cardigan yang ini 6 cm juga yah!" Sambil saya pegang cardigan yang saya gantung di pintu pagar, dekat dari posisi Bapak itu berhentikan motornya.

"Pak saya ambil satu barang lagi, tunggu yah!" Kata saya.

Bapak itu pun mengiyakan sambil memotong cardigan pertama. Saya cukup takjub melihat bagaimana Bapak itu memotong cardigan sambil berdiri. Kedua kakinya difungsikan untuk menjaga agar posisi motor tetap stabil dan tambahan satu tongkat penopang pada bagian mesin. Terlihat Bapak itu lincah mengerjakannya meskipun sambil berdiri.

Setelah memperhatikannya sejenak, saya segera mengambil celana kulot yang mau dipotong. Saya lipat ujung celana sebagai tanda batas bagian yang harus dipotong.

Menanti cardigan kedua diselesaikan, celana kulot saya gantung di pintu pagar.

Kami kemudian ngobrol, sambil menanti Bapak menyelesaikan pekerjaannya.

Saya : "Bapak bisa buat baju?"

Bapak : "Tidak bisa bu, saya hanya bisa menjahit!"

Saya : "Oh gitu, Bapak kok bisa menjahit?"

Bapak : "Dulu saya kerja di garmen sebagai buruh jahit bu, trus berhenti!"

Saya : "Kenapa Bapak berhenti?"

Bapak : "Gak ada waktu istirahat bu!"

Saya : "Oh banyak jahitan ya pak. Kalau buat baju, Bapak bisa?"

Bapak : "Kagak bisa bu, dulu saya hanya jahit pola yang sudah digunting."

Saya : "Sudah berapa lama Bapak kerja seperti ini?"

Bapak : "lima tahun!"

Saya : "Sudah lama juga ya pak. Oh yah saya ijin ambil gambar dan video Bapak yah!"

Bapak : "Silahkan bu!"


Bapak tukang jahit keliling memotong celana kulot. Ia lakukan sambil berdiri agar posisi motor tetap stabil meskipun sudah ada tongkat tambahan sebagai penopang pada bagian meja mesin jahit. Meskipun dalam posisi demikian, hasil guntingannya lurus sesuai ukuran yang saya minta.

Saat menjahit, kaki kanan si Bapak yang menginjak pedal roda mesin. Pada saat menjahit kadang tongkat penopangnya lepas. Namun beliau tetap bisa meneruskan jahitannya. Pada awalnya saya kira mesin menggunakan dinamo dengan tenaga aki dari motor. Ternyata mesin jahitnya manual. Saya takjub melihat hasil jahitnya. Rapih! Padahal beliau lakukan sambil tetap menahan posisi motor tetap stabil.

Terima kasih Bapak, sudah mengerjakannya dengan sangat baik. Tarif jasa potong satu baju Rp 15.000,-.

Saya berasumsi sepertinya Bapak ini mendapat pendapatan lebih besar dengan bekerja sebagai tukang jahit keliling daripada bekerja sebagai buruh jahit di garmen. Dari segi waktu, beliau juga lebih fleksibel. Jaman sekarang orang sudah lebih memilih belanja online di marketplace. Ukuran pakaian yang terbeli tidak selalu sesuai atau pas di badan, misalnya kepanjangan. Maka jasa tukang jahit keliling seperti ini akan terus mendapat pelanggan. Mungkin yang menjadi kendala ketika musim hujan. Karena motor yang digunakan tidak dilengkapi atap yang bisa melindungi mesin dan dirinya dari air hujan.


Sehat selalu Bapak. Semoga mendapat pelanggan setiap hari.


Tangsel, 20 Juni 2022

Mom4F

Selasa, 31 Mei 2022

Disapa virus covid-19#2

Pada hari ketiga, anak kami yang ketiga mulai merasa tidak nyaman. Tenggorokannya sakit dan kepala sedikit pusing. Kami mulai curiga jangan-jangan anak-anak mengalami sakit seperti suami. Semua gejala yang dialami sama. Anak kedua sudah tidak demam. Suami melakukan tes dan anak kedua. Qadarullah semua hasil tes reaktif. Saat itu kami sudah beranggapan bahwa yang sedang sakit terinfeksi virus covid. Untuk mencegah penularan kepada yang sehat, yang sakit tidur di lantai bawah. Untuk sementara saya menghentikan kegiatan masak karena dapur ada di lantai bawah. Tidak memungkinkan bayi, anak kami yang keempat ditinggal sendiri di kamar tanpa ada yang jaga.
Anak ketiga akhirnya mengalami demam tinggi seperti yang dialami suami dan kakaknya.
Lalu pada sore hari, anak pertama yang sedang puasa mengeluh kepala agak pusing dan tenggorokan tidak nyaman. Karena waktu berbuka tidak lama lagi, ia tetap melanjutkan puasanya. Pada malam hari, badannya sudah mulai hangat berlanjut demam tinggi seperti lainnya. Tidak lama berselang si bungsu bayi, badannya juga mulai hangat.
Akhirnya sisa saya yang bertahan dan berharap kondisi tetap fit.
Suami dan anak kedua berangsur pulih. Merek sudah tidak demam lagi, hanya ada batuk sesekali dan tenggorokan masih sakit. Kami bagi tugas, suami yang merawat anak pertama dan ketiga, saya fokus merawat bayi yang sedikit rewel karena merasa kurang nyaman. Alhamdulillah Aanak kedua sudah segar dan sempat mengikuti ujian hari terakhir.
Kami konsumsi obat sesuai kebutuhan saja seperti : obat demam, obat batuk, multivitamin, madu. Semua obat-obatan, supplemen kami pesan secara online di halodoc atau di K24. Untuk makanan kami pesan secara online juga.
Dengan terpaksa tidak ada yang berpuasa dulu.
Semua mengalami demam sekitar dua hari, termasuk bayi. Setelah demam reda, anak yang besar merasa tenggorokan sakit dan sedikit batuk.
Setelah sepuluh hari alhamdulillah suami dan anak-anak sudah pulih. Mereka sudah bisa mulai puasa. Barulah saya yang dapat giliran si virus.
Perasaan tidak nyaman, tenggorokan agak sakit. Pada malam hari badan saya mulai hangat tapi suhunya tidak begitu tinggi, suhu berkisar 37an derajat celcius.
Hal yang membuat paling tidak nyaman adalah badan dan sendi terasa pegal. Rasa pegal ini yang membuat saya sulit tidur. Perasaan menjadi lebih nyaman setelah minum obat paracetamol. Selain minum obat demam, saya juga konsumsi multivitamin. Ternyata vitamin ini memancing gas lambung saya akibatnya selera makan jadi kurang. Pada hari ketiga indra penciuman saya hilang. Demam dan badan pegal sudah tidak lagi, tapi maag dan batuk kering yang mulai muncul. Tenggorokan rasanya gatal sekali terutama pada malam hari. Hal ini yang memamcing saya sering batuk, akibatnya otot perut di bawah dada jadi keram. Kadang ketika batuk, kandung kemih ketekan sehingga air seni pun keluar tanpa bisa tertahan lagi.
Gejala yang kami alami sebenarnya terbilang ringan. Hanya saja batuk yang saya alami 2Pada hari ketiga, anak kami yang ketiga mulai merasa tidak nyaman. Tenggorokannya sakit dan kepala sedikit pusing. Kami mulai curiga jangan-jangan anak-anak mengalami sakit seperti suami. Semua gejala yang dialami sama. Anak kedua sudah tidak demam. Suami melakukan tes dan anak kedua. Qadarullah semua hasil tes reaktif. Saat itu kami sudah beranggapan bahwa yang sedang sakit terinfeksi virus covid. Untuk mencegah penularan kepada yang sehat, yang sakit tidur di lantai bawah. Untuk sementara saya menghentikan kegiatan masak karena dapur ada di lantai bawah. Tidak memungkinkan bayi, anak kami yang keempat ditinggal sendiri di kamar tanpa ada yang jaga.
Anak ketiga akhirnya mengalami demam tinggi seperti yang dialami suami dan kakaknya.
Lalu pada sore hari, anak pertama yang sedang puasa mengeluh kepala agak pusing dan tenggorokan tidak nyaman. Karena waktu berbuka tidak lama lagi, ia tetap melanjutkan puasanya. Pada malam hari, badannya sudah mulai hangat berlanjut demam tinggi seperti lainnya. Tidak lama berselang si bungsu bayi, badannya juga mulai hangat.
Akhirnya sisa saya yang bertahan dan berharap kondisi tetap fit.
Suami dan anak kedua berangsur pulih. Merek sudah tidak demam lagi, hanya ada batuk sesekali dan tenggorokan masih sakit. Kami bagi tugas, suami yang merawat anak pertama dan ketiga, saya fokus merawat bayi yang sedikit rewel karena merasa kurang nyaman. Alhamdulillah Aanak kedua sudah segar dan sempat mengikuti ujian hari terakhir.
Kami konsumsi obat sesuai kebutuhan saja seperti : obat demam, obat batuk, multivitamin, madu. Semua obat-obatan, supplemen kami pesan secara online di halodoc atau di K24. Untuk makanan kami pesan secara online juga.
Dengan terpaksa tidak ada yang berpuasa dulu.
Semua mengalami demam sekitar dua hari, termasuk bayi. Setelah demam reda, anak yang besar merasa tenggorokan sakit dan sedikit batuk.
Setelah sepuluh hari alhamdulillah suami dan anak-anak sudah pulih. Mereka sudah bisa mulai puasa. Barulah saya yang dapat giliran si virus.
Perasaan tidak nyaman, tenggorokan agak sakit. Pada malam hari badan saya mulai hangat tapi suhunya tidak begitu tinggi, suhu berkisar 37an derajat celcius.
Hal yang membuat paling tidak nyaman adalah badan dan sendi terasa pegal. Rasa pegal ini yang membuat saya sulit tidur. Perasaan menjadi lebih nyaman setelah minum obat paracetamol. Selain minum obat demam, saya juga konsumsi multivitamin. Ternyata vitamin ini memancing gas lambung saya akibatnya selera makan jadi kurang. Pada hari ketiga indra penciuman saya hilang. Demam dan badan pegal sudah tidak lagi, tapi maag dan batuk kering yang mulai muncul. Tenggorokan rasanya gatal sekali terutama pada malam hari. Hal ini yang memamcing saya sering batuk, akibatnya otot perut di bawah dada jadi keram. Kadang ketika batuk, kandung kemih ketekan sehingga air seni pun keluar tanpa bisa tertahan lagi.
Gejala yang kami alami sebenarnya terbilang ringan. Hanya saja bagi saya terasa berat karena tidak dapat istirahat total karena meskipun sakit tetap harus kelonin bayiPada hari ketiga, anak kami yang ketiga mulai merasa tidak nyaman. Tenggorokannya sakit dan kepala sedikit pusing. Kami mulai curiga jangan-jangan anak-anak mengalami sakit seperti suami. Semua gejala yang dialami sama. Anak kedua sudah tidak demam. Suami melakukan tes dan anak kedua. Qadarullah semua hasil tes reaktif. Saat itu kami sudah beranggapan bahwa yang sedang sakit terinfeksi virus covid. Untuk mencegah penularan kepada yang sehat, yang sakit tidur di lantai bawah. Untuk sementara saya menghentikan kegiatan masak karena dapur ada di lantai bawah. Tidak memungkinkan bayi, anak kami yang keempat ditinggal sendiri di kamar tanpa ada yang jaga.
Anak ketiga akhirnya mengalami demam tinggi seperti yang dialami suami dan kakaknya.
Lalu pada sore hari, anak pertama yang sedang puasa mengeluh kepala agak pusing dan tenggorokan tidak nyaman. Karena waktu berbuka tidak lama lagi, ia tetap melanjutkan puasanya. Pada malam hari, badannya sudah mulai hangat berlanjut demam tinggi seperti lainnya. Tidak lama berselang si bungsu bayi, badannya juga mulai hangat.
Akhirnya sisa saya yang bertahan dan berharap kondisi tetap fit.
Suami dan anak kedua berangsur pulih. Merek sudah tidak demam lagi, hanya ada batuk sesekali dan tenggorokan masih sakit. Kami bagi tugas, suami yang merawat anak pertama dan ketiga, saya fokus merawat bayi yang sedikit rewel karena merasa kurang nyaman. Alhamdulillah Aanak kedua sudah segar dan sempat mengikuti ujian hari terakhir.
Kami konsumsi obat sesuai kebutuhan saja seperti : obat demam, obat batuk, multivitamin, madu. Semua obat-obatan, supplemen kami pesan secara online di halodoc atau di K24. Untuk makanan kami pesan secara online juga.
Dengan terpaksa tidak ada yang berpuasa dulu.
Semua mengalami demam sekitar dua hari, termasuk bayi. Setelah demam reda, anak yang besar merasa tenggorokan sakit dan sedikit batuk.
Setelah sepuluh hari alhamdulillah suami dan anak-anak sudah pulih. Mereka sudah bisa mulai puasa. Barulah saya yang dapat giliran si virus.
Perasaan tidak nyaman, tenggorokan agak sakit. Pada malam hari badan saya mulai hangat tapi suhunya tidak begitu tinggi, suhu berkisar 37an derajat celcius.
Hal yang membuat paling tidak nyaman adalah badan dan sendi terasa pegal. Rasa pegal ini yang membuat saya sulit tidur. Perasaan menjadi lebih nyaman setelah minum obat paracetamol. Selain minum obat demam, saya juga konsumsi multivitamin. Ternyata vitamin ini memancing gas lambung saya akibatnya selera makan jadi kurang. Pada hari ketiga indra penciuman saya hilang. Demam dan badan pegal sudah tidak lagi, tapi maag dan batuk kering yang mulai muncul. Tenggorokan rasanya gatal sekali terutama pada malam hari. Hal ini yang memamcing saya sering batuk, akibatnya otot perut di bawah dada jadi keram. Kadang ketika batuk, kandung kemih ketekan sehingga air seni pun keluar tanpa bisa tertahan lagi.
Gejala yang kami alami sebenarnya terbilang ringan. Hanya saja bagi saya terasa berat karena tidak dapat istirahat total karena meskipun sakit tetap harus kelonin bayi lebih lama karena tidak dapat istirahat total sebab harus merawat bayi yang masih dalam masa pemulihan. Apalagi saya memiliki riwayat penyakit maag, yang memperparah kondisi tenggorokan saya (memancing ingin batuk). Dalam keadaan demikian saya tetap berusaha makan meskipun tidak ada selera makan sedikit pun. Konsumsi menu bubur ayam hangat atau bubur lainnya membantu menghadirkan selera makan, meskipun makannya belum seperti biasa.
Dari pengalaman terkena covid yang kemungkinan adalah varian omicron, ada beberapa hal yang dapat saya sarankan ketika menjalani isolasi mandiri di rumah :
- Tetap jalankan prokes
- Jangan panik
- Sediakan obat-obatan dan vitamin sesuai kebutuhan seperti : obat demam, obat batuk, multivitamin
- Sediakan suplemen tambahan jika diperlukan seperti : susu, madu
- Tetap makan makanan bergizi dan minum air putih secukupnya
- Sediakan alat oxymeter untuk jaga-jaga
- Jika memiliki dana, beli alat tes rta (rapid tes antigen) untuk lakukan tes mandiri
- Lakukan olah raga ringan dan berjemur pada matahari pagi.

Nah itulah beberapa hal yang kami lakukan selama menjalani isolasi mandiri di rumah. Semoga tetap diberi kesehatan bagi pembaca, dan diberi kesembuhan bagi yang sedang sakit.
Stay Helathy.....
Tangsel, 31 Mei 2022
Mom 4F

Senin, 30 Mei 2022

Disapa virus covid-19#1

Tahun 2022 adalah tahun ketiga terjadi pandemi covid-19. Menurut berita resmi sudah terjadi penurunan kasus, baik positif dan yang meninggal. Namun demikian pemerintah tetap menganjurkan menjaga prokes karena varian baru omicron masih beredar di Indonesia. Meskipun varian ini tercatat menimbulkan gejala ringan, tapi penyebaran virusnya sangat cepat.
Qadarullah pada hari keduabelas Ramadhan 1443H, tanggal 14 April 2022 suami tiba di rumah setelah melakukan perjalanan dinas dari Pekanbaru.
Sesampai di rumah beliau mengabarkan dirinya sedang demam, meriang sejak malam tadi. Kami semua langsung menggunakan masker. Untuk sementara suami beristirahat di ruang tamu lantai bawah menggunakan spare kasur yang ada. Pikiran kami langsung tertuju pada virus covid. Tidak lama dari suami tiba, anak kami yang kedua juga mengalami demam dan tenggorokan sakit. Saya manaruh curiga gejala yang dialami anak kedua adalah radang tenggorokan biasa. Alasan utamanya karena anak-anak ketika buka puasa langsung minum manis dan dingin. Jadi untuk sementara anak kedua saya minta istirahat di lantai dua di kamar tempat adiknya anak ketiga.
Kami berusaha tidak panik, melakukan isolasi mandiri meskipun belum terbukti bahwa gejala yang sedang dialami suami dan anak adalah covid.
Untuk menghemat tenaga dengan tidak perlu kontrol dan tes ke rumah sakit, saya minta suami order alat rapid test antigen (rta) secara online, termasuk obat dan vitamin untuk dirinya dan anak-anak.
Esok hari alat tes rta baru tiba. Semua melakukan tes kecuali saya dan bayi (si sulung). Diperoleh hasil tes : suami hasil tes reaktif, yang lainnya non reaktif. Semakin kuat dugaan kami bahwa suami terpapar virus covid, sedangkan anak kedua hanya sakit biasa saja. Kami lakukan konsultasi dengan ponakan yang berprofesi dokter terkait obat dan vitamin yang perlu kami konsumsi. Beliau menyarankan cukup minum obat demam, multivitamin, perbanyak minum dan makan makanan bergizi. Tidak perlu minum anti virus.
Saya juga menginformasikan berupa kirim foto tenggorokan anak kedua yang terlihat bengkak. Keluhan ini sebenarnya sudah berulang, terutama saat anak berusia kurnag dari 10 tahun. Ponakan memberi resep antibiotik untuk radang di tenggorokan anak kedua. Saya juga memberikan makan yang dimasak sendiri.
Suami mulai mengeluhkan rasa sakit pada tenggorokan, sehingga ia meminta dibuatkan bubur. Karena keluhan suami dan anak kedua hampir sama, maka menu bagi mereka saya samakan saja. Keduanya mengalami demam tinggi selama dua hari. Suami terpaksa melayani dirinya sendiri seperti mengompres badan saat suhu badannya naik. Sementara anak kedua dibantu memberi kompres air hangat oleh kakak pertama. Saya meminimalkan berinteraksi langsung dengan yang sakit karena harus menjaga kedua adik lainnya, terutama yang bayi.
Bersambung...
Tangsel, 30 Mei 2022
Mom 4F

Family Strategic Planning (FSP) 2025 Part 2

  Pada 11 Januari 2025, Sabtu kemarin adalah perdana kami lakukan forum keluarga secara sengaja untuk membahas peta keluarga. Sehari sebelum...