Rabu, 15 Januari 2025

Family Strategic Planning (FSP) 2025 Part 2



 

Pada 11 Januari 2025, Sabtu kemarin adalah perdana kami lakukan forum keluarga secara sengaja untuk membahas peta keluarga. Sehari sebelumnya saya sudah membagikan draft peta keluarga tersebut di WAG keluarga. Forum ini kami awali dengan jalan pagi terlebih dahulu. Semua anak-anak mengikuti aktifitas jalan pagi sesuai ritmenya yang masih ogah-ogahan melangkahkan kaki. Namu berbeda bagi si bayi, ia sangat lincah berlari ditemani oleh pak suami. Sepeda tiga rodanya akhirnya saya yang dorong tanpa penumpang. Kami dapat 3 putaran lalu memutuskan menyudahi jalan pagi, selanjutnya kami menuju sebuah kafe untuk sarapan yang letaknya dekat dari tempat jalan pagi tadi.

Kafe yang dituju sudah buka. Kami memilih tempat duduk di bagian pojok biar berasa lebih privat. Anak-anak sudah memesan menu kesukaannya begitupun kami. Sambil menanti pesanan datang, saya memanfaatkan momen tersebut menyampaikan peta keluarga yang telah dibagikan sebelumnya. Saya pinjam gadget pak suami untuk menampilkan draft peta karena layar gadgetnya lebih lebar. Anak-anak termasuk pak suami sudah bersiap mendengarkan apa yang ingin saya sampaikan.

Saya memulai obrolan dengan menjelaskan apa itu peta keluarga. Menjelaskannya seperti apa yang saya tuliskan pada part 1. Berikutnya menjelaskan mengapa memberi nama "Pasompe Mallinrung" untuk peta keluarga kami. Saya sampaikan bahwa dua kata ini adalah bahasa Bugis, dimana Pasompe artinya perantau, Mallinrung artinya gigih atau tidak mudah menyerah. Dari dua kata tersebut memiliki makna bahwa kami adalah keluarga perantau yang gigih berjuang dalam menghadapi dinamika kehidupan dimanapun berada. Sebuah nama yang awalnya saya usulkan lalu kami sepakati bersama bahwa itulah nama keluarga kami. Sampai obrolan di bagian ini belum ada pertanyaan atau sanggahan dari siapa pun, maka saya teruskan obrolan berikutnya.

Berdasar petunjuk di buku FSP, urutan aktifitas adalah membahas masalah tujuan bersama mengikut tentang current condition & situation, support system, bekal dan golden rules. Berhubung item-item pembahasan ini sudah saya buat draftnya, sisa menjadikannya bahan obrolan dengan anak-anak dan pak suami. Saya menjelaskan bahwa penentuan tujuan berdasar situasi dan kondisi keluarga saat ini, jadi hal pertama yang kami obrolkan adalah tentang kondisi terkini. Apa sajakah itu? antara lain mengenai potensi dominan atau kekuatan tiap anak, saya maupun suami. Saya sampaikan kekuatan anak-anak berdasarkan pengamatan sehari-hari dan juga hasil assesment dari sekolah. Pada poin ini anak-anak belum sepenuhnya menyadari akan kekuatan dan kelemahannya. Tidak apa, kali ini masih perdana menjalankan forum diskusi tentang peta keluarga kami sehingga porsi obrolan masih lebih banyak  dilakukan oleh saya. Yang penting anak-anak memahami dulu Apa, Mengapa peta ini dibuat. Sementara bagi suami, strategic planning sudah menjadi makanannya sehari-hari sehingga beliau yang mendapat porsi memperkuat dan memperjelas obrolan saya. Pada obrolan tentang kondisi aset dan keuangan, semua saya sampaikan sesuai keadaan sebenarnya. Baik dari segi materi maupun jumlahnya. Pada bagian ini, anak-anak tertarik ketika saya menyebutkan Surat Berharga Negara (SBN) berupa Sukuk. Saya dan Pak Suami menjelaskan bahwa negara menerbitkan surat pinjaman modal kepada warga negara yang dinilai per unit itu sekian Rupiah. Modal atau dana ini digunakan oleh negara untuk membiayai pembangunan infrastruktur, usaha-usaha milik negara dan pengembangannya. Negara menjanjikan pembagian hasil bagi dari kegiatan tersebut dalam jumlah tertentu selama periode tertentu. Saya menyampaikan bahwa pembelian SBN adalah salah satu upaya pengelolaan keuangan yang belum digunakan dalam waktu dekat. Aktifitas ini disebut investasi. Yang saya tekankan bahwa tidak semua tabungan yang dimiliki diinvestasikan hanya karena tergiur dengan imbal hasil. Semua tetap harus terukur. Pada kesempatan ini saya memberi contoh bagaimana anak-anak juga perlu melakukan pengelolaan terhadap uang yang dimiliki, seperti merencanakan pengeluaran. Membuat pos-pos budget misalnya untuk menabung berapa, infak, bersosialisasi atau hiburan dan seterusnya.

Masuk ke sesi obrolan tentang kondisi keuangan. Pada kesempatan tersebut saya menyampaikan berapa pendapatan setiap bulannya diikuti berapa jumlah beban utang keluarga yang menuntut fokus bersama terutama saya dan pak suami agar utang tersebut segera terselesaikan. Pada momen ini saya benar-benar menekankan bahwa kita semua dapat berkontribusi untuk hal tersebut, dengan cara apa? Hayo...mari sama-sama meniadakan kemubassiran. Contohnya : jika sudah berinvestasi dengan mengeluarkan sejumlah biaya masuk sekolah, bimbingan belajar, pengadaan perangkat seperti komputer maka selayaknya ada output dari invetasi tersebut. Bagaimana caranya? yaah dengan bersungguh-sungguh menjalani kegiatan sekolah, giat belajar agar pengetahuan dan kesadaran ingin memiliki kualitas hidup menjadi lebih baik, perilaku-perilaku baik bertumbuh serta memiliki kemampuan menyelesaikan masalah secara cermat.

Bersambung....

Minggu, 12 Januari 2025

Aku Sebelum Bersamamu (Wedding Anniversary ke 19) #2

Setelah mendengar saran dari senior, esok hari kami ke rumah kak Salam. Partner skripsi aku sedang berhalangan jadi aku ke rumahnya ditemani salah seorang teman yang sudah pernah ke rumah kak Salam. Ternyata rumah yang ia tinggali adalah milik kakaknya yang sudah menikah. Kakaknya sudah memiliki seorang anak laki-laki berusia sekitar 4 tahun.

Sesampai di rumah kak Salam, teman saya yang berinisiatif memulai pembicaraan. Mereka memang sudah saling kenal sebelumnya, sementara aku masih sungkan dan selama ini jarang berinteraksi langsung, meskipun kami sama-sama sebagai asisten lab bawah. Tapi semenjak saya bergabung di lab, ia sudah selesai dan kerja. Tak lama kami ngobrolnya, aku langsung menyampaikan  tujuan kedatangan kami, ingin meminta saran tentang judul skripsi yang dapat aku dan partner pilih. Ia langsung menceritakan bahwa saat itu ada studi kasus proteksi jarak untuk Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) pada sebuah gardu induk akibat baru difungsikan dalam sistem interkoneksi. Ia menyarankan membuat tugas akhir tentang studi setting relay jarak sebagai proteksi utama pada saluran yang baru terkoneksi tersebut. Aku langsung menyetujui, pasangan lainnya ternyata banyak juga yang memilih studi setting relay jarak hanya beda lokasi dan kondisi lainnya saja. Tentu salah satu menjadi pertimbanganku segera menyetujui usulan judul dari kak Salam, adalah akses mendapatkan data pastinya mudah karena kak Salam sendiri bekerja di PLN, lalu landasan teori dan metode perhitungan sudah banyak referensi dari skripsi pasangan lainnya. Yaaah dulu jaman aku kuliah undang-undang plagiarisme belum seketat seperti sekarang. Tapi kami bukan yang style Copy Paste doong. Landasan teori pastinya sama dengan skripsi yang sejenis, yang membedakan adalah data berikut perhitungannya sehingga diperoleh hasil setting yang sesuai dengan kondisi ril objek penelitian (SUTT). Jika sekarang ditanya tentang isi skripsi kami, mohon maaf saya sudah lupa kecuali kalau saya baca ulang mungkin sedikit menolong recall materi-materi kuliah dulu, akh sudahlah....sekarang juga jaman sudah canggih. Perhitungan seperti itu sudah dilakukan oleh sistem (aplikasi).

Sungguh keberuntungan bagi kami, proses penyusunan skripsi kami berjalan lancar, terutama untuk memperoleh data kami tidak mengalami kesulitan. Bahkan kami tidak harus mendatangi kantor PLN untuk mendapatkannya. Kak Salam suami aku sekarang, sangat proaktif. Ia rela mengantarkanku data hingga ke rumah sepulang ia kerja. Terkadang berpikir "orang ini kok baik banget, gak capek apa harus bela-belain lagi antarin data, padahal yang lainnya biasanya harus ke kantor untuk mengambil data!". Akh terima saja, toh jadinya hemat waktu dan biaya. Bukan sekali, duakali ia melakukannya tapi berkali-kali. Terkadang aku berasumsi, apakah ia menyukaiku jadi begitu baik padaku? haha tidak mungkin aku konfirmasi hal ini kepadanya. Hingga suatu waktu ia mengabari bahwa dirinya sudah terangkat sebagai pegawai tetap PLN tapi lokasi kantornya pindah ke kota lain yang butuh waktu tempuh 3 - 4 jam dari kota sebelumnya. Aku sedikit khawatir, bagaimana nantinya aku mau konsultasi dan meminta data. Dengan kebaikannya ia bilang tetap memandu dan siap membantu jika ada masalah dengan skripsi kami, tentang data ia sudah menyampaikan ke temannya yang tidak mutasi untuk membantu kami jika ingin mengambil data. Sejak saat itu tidak ada lagi yang mengantarkan data, kamilah yang harus mendatangi kantor dan menemui temannya itu. Bersyukur saat situasi tersebut proses penyusunan skripsi kami tinggal 30%. Entah dua apa tiga kali aku dan partner mendatangi kediamannya saat wiken untuk belajar beberapa teori terkait isi skripsi kami. Ia rutin pulang ke rumah kakaknya terutama saat wiken dan sedang tidak ada perjalanan dinas. Sejujurnya untuk penyusunan isi skripsi memang aku yang dominan memikirkan dan mengerjakannya, sementara partner aku ia bantu mengetik dan bersedia  menanggung lebih banyak biaya daripada aku, secara financial kondisinya jauh lebih cukup dari aku. Alhamdulillah kami saling bantu dan saling mengisi kekurangan yang ada pada kami.

Butuh waktu kurang lebih 3 bulan menyusun tugas akhir kami, akhirnya rampung. Lembar pengesahan pun sudah ditandatangani oleh kedua pembimbing kami, artinya skripsi kami sudah siap diuji didepan  dosen-dosen penguji. Selama penyusunan skripsi ini, selain kak Salam banyak membantu beberapa senior lainnya juga terutama saat penggunaan program Matlab untuk perhitungan hubung singkat. Pasangan lain pun mengalami hal yang sama, mungkin yang special adalah aku diantarkan data secara langsung ke rumah, momen itulah yang paling membuatku teringat pada sosoknya, yang kemudian menjadi pasangan hidupku.

Hal penting selanjutnya yang kami lakukan adalah mengurus berkas ujian tugas akhir. Setelah memenuhi kelengkapan administrasi jadwal ujian pun diberikan oleh pihak jurusan. Hari itu aku dan teman skripsi menggunakan setelan formil yaitu jas dan rok warna hitam dengan dalaman kemeja warna putih. Sementara kebutuhan tambahan seperti konsumsi bagi penguji dan pembimbing dibuatkan oleh teman perempuan seangkatan yang belum menyusun skripsi. Kami tinggal menyerahkan kebutuhan dananya. Alhamdulillah ujian akhir berjalan lancar dan kami dinyatakan lulus dengan mendapat nilai A. Kami tentunya sangat bersyukur dengan nilai tersebut karena sepanjang proses ujian perasaan nervous tak terhindarkan. Beberapa pertanyaan dari sang penguji benar-benar menguras analisa kami karena mereka memberikan pertanyaan contoh-contoh kasus. Sementara kami masih sangat minim pengalaman untuk memahami kondisi di lapangan yang terkait dengan pertanyaan.

Tentu kabar kelulusan ini kami sampaikan ke kak Salam, dan tak lupa menyampaikan rasa terima kasih atas bantuannya selama pengerjaan tugas akhir kami, begitupun kepada teman dan senior lainnya. Yang tak kalah penting juga kami mengabari orang tua tentang hal ini melalui surat yang aku kirim melalui travel. Aku belum punya alat komunikasi sendiri saat itu selain telpon rumah tempat aku menumpang, begitupun orangtuaku yang berada di kampung. Jadi untuk memberi mereka kabar pilihannya harus dengan surat.

Selesai ujian masih ada yang harus kami lakukan, yaitu mendaftarkan diri sebagai peserta wisuda. Kami segera menyelesaikan administrasi terutama masalah pembayaran untuk beberapa hal sesuai ketentuan dari pihak kampus. Begitu selesai, kami pun sudah terdaftar sebagai peserta wisuda yang jadwalnya masih beberapa pekan kedepan. Pada suatu malam, setelah shalat Isya, telpon rumah berdering. Yang angkat telpon sepupu, kemudian terdengar memanggil nama aku "kak Nana......ada telpon, kak Salam!". Antara senang dan bertanya-tanya ada apa gerangan ia menelpon. Selama mengerjakan skripsi, aku memang sering berinteraksi dengannya baik secara langsung atau melalui telpon tapi yang kami bicarakan adalah masalah skripsi. Nah setelah aku udah lulus ujian akhir, tidak ada lagi yang dapat aku bahas dengannya. Aku raih telpon dan mengucap salam. Ia pun menjawab salam dari aku. Ia memulai percakapan dengan bertanya kepadaku sedang apa, kapan wisuda, lalu menanyakan apa rencanaku setelah wisuda nanti. Aku jelaskan apa adanya, dan kubilang setelah wisuda serta sudah menerima ijazah ingin mencari kerja di kota yang berbeda. Ia langsung menimpali "tolong infokan yah kalau jadi cari kerja di tempat jauh!". Yaah dari dulu aku memang bercita-cita bisa kerja di perusahaan tambang yang lokasinya berada di pulau berbeda dari kota tempatku kuliah. Terdorong oleh keinginan ingin punya penghasilan tinggi agar kesejahteraan lebih terjamin.

Beberapa obrolan ringan kami bicarakan, tentang teman, keluarga dan lainnya. Tiba-tiba ia diam sejenak lalu bilang "aku ingin sampaikan sesuatu kepadamu, tapi kamu jangan tertawa yah!". Kujawab eh tergantung, yang disampaikan lucu apa tidak. Lalu ia bilang "I Love You!". Aku diam beberapa saat, walau tidak terlalu terkejut, karena selama kami berinteraksi, aku sudah merasakan perhatiannya yang lebih dari biasanya. Hanya saja aku bingung dan malu harus memberi jawaban apa karena ingin juga terkesan mahal tidak asal terima saja. Di sisi lain aku sedikit merasa malu karena tidak percaya apa yang ia lihat dari diriku yang biasa-biasa ini. Akhirnya aku beranikan diri bertanya, apa yang membuatnya menginginkan aku. Dasar kami sama-sama tipe yang tak bisa merayu seperti yang di film-film romantis itu, pertanyaanku malah hanya dijawab "suka saja!". Aku pun sudah kehabisan bahan dan tak mampu mencairkan suasana biar lebih santai lalu kubilang "oke kita coba jalani!". Bukan main ia senang mendengar jawaban itu, ia pun mengakhiri percakapan dengan menyampaikan niatnya bahwa wiken pekan depan ia ingin ke rumah dan mengajak keluar. Aku merespon kalimatnya dengan senang dan kujawab "oke, datang saja!".

Sejak itu kami menjadi teman dekat. Setiap wiken selama ia tidak ada dinas ke luar kota pasti datang berkunjung dan mengajak aku jalan-jalan. Semakin lama kami semakin dekat. Ia menyampaikan niatnya bahwa kami jalan seperti ini cukup 1 tahun saja selanjutnya menikah. Qadarullah karena suatu hal diluar kendali dan faktor budaya keluarganya, yang tadinya ingin saling kenal hanya selama 1 tahun terpaksa menjadi lebih lama. Bagi aku tidak ada masalah, apalagi saat itu aku sudah kerja di sebuah industri pangan PMA (Penanaman Modal Asing), jadi waktuku tidak hanya memikirkan hal tersebut. Aku lebih mengkhawatirkannya, karena secara umur usianya sudah kepala tiga. Aku terpaut 4 tahun dengannya. Jika menunda lagi menikah, akan berpengaruh pada sisa masa kerjanya terhadap jikalau berencana memiliki anak nantinya. Kak Salam dengan sabar menjelaskan kondisinya, aku pun pada periode itu lebih memanfaatkannya sebagai momentum untuk lebih dekat kepada Allah SWT. Aku mulai mengikuti kajian rutin, memperdalam dan menguatkan kembali pemahamanku tentang Tauhid, Aqidah. Aku mulai menjaga jarak dengannya karena kami belum jadi pasangan yang sah. Bila ia berkunjung, cukup ngobrol di rumah saja. Perubahan dari diriku justru membuatnya semakin suka, hal itu disampaikannya langsung. Tak jarang aku membatasi ngobrol dengannya melalui telpon, tapi ia tetap berusaha agar kami tetap terhubung.

Akhirnya menginjak masa perkenalan kami 2 tahun, ia dan keluarganya sepakat ingin melamar saya. Alhamdulillah....aku menjadi lebih tenang dan tidak lagi merasa dalam hubungan yang salah. Segala prosedur untuk menikah telah kami penuhi. Tepat 08 Januari 2006 kami pun sah sebagai pasangan suami istri.

💖👰💂💘

Kamis, 09 Januari 2025

Aku Sebelum Bersamamu (Wedding Anniversary ke 19) #1

08 Januari 2025, Rabu kemarin menjadi momen special bagi kita. Hari itu adalah tepatnya hari ke 6939, 21 jam aku dan kamu sah bersama. Mendulang memori 26 tahun silam, kala itu aku sebagai mahasiswi semester 3 jurusan teknik elektro Unhas. Aku tidak punya banyak teman, tidak kaya, paras biasa-biasa saja, memiliki IQ juga di level standar, berasal dari kampung, pokoknya tidak ada yang menonjol dari diri aku. Satu-satunya yang kumiliki adalah semangat ingin segera menyelesaikan kuliah biar dapat kerja yang bergaji tinggi 😂. Kurasa ini adalah impian semua anak kuliah kala itu.

Semester 3 adalah waktu pertama kali kami mahasiswa(i) mendapat mata kuliah praktikum Laboratorium Mesin-Mesin Listrik. Orang-orang menamainya Lab Bawah, karena posisinya berada di lantai paling bawah. Aku mengikuti praktikum bersama yang lainnya dengan segala dinamikanya. Saat praktikum untuk percobaan mesin listrik, muncul seorang asisten senior bernama Abdul Salam Nganro memandu responsi materi untuk kelompok aku dan beberapa teman seangkatanku. Saat itu perasaanku biasa saja, seperti layaknya menghadapi asisten senior lainnya. Yang terpenting saat itu, saya sudah lulus respon pintu selanjutnya harus lulus respon tulis (materi). Beban harus lulus ini kadang membuat saya tertekan akibatnya meskipun sudah belajar sungguh-sungguh masih saja ada materi yang terlupa saat ditanya. Sepetinya teman-teman lainnya mengalami hal yang sama. Boleh jadi kami juga terpengaruh oleh kabar kabur, katanya asisten-asisten lab bawah pada sangar. Hmhmm tapi ternyata benar juga sih, beberapa asisten senior menunjukkan sikap keras terutama kepada praktikan cowok. Untuk asisten satu ini, kami panggil Kak Salam kelihatannya tidak menunjukkan kesan sangar. Ia memandu respon tulis (materi) secara wajar. Menyampaikan materi dan mengajukan pertanyaan sesuai modul praktikum. Tidak ada yang istimewa sehingga harus takut atau sebaliknya. Jadi tak ada hal special untuk mengingat sosoknya selain bahwa ia adalah asisten pada umumnya yang akan kutemui selama melakukan percobaan serta nebgerjakan tugas-tugas modulnya. Yaaah begitulah perasaan aku ke kamu saat itu. Beberapa kali aku melihatmu dan partner skripsi (tugas akhir) kamu beredar di lab bawah, membawa beberapa diktat yang mungkin itu adalah bahan tugas akhirmu. Aku tak pernah ingin mendekati atau pun memulai obrolan, jangankan kepada senior apalagi asisten ke teman saja saya jarang yang memulai obrolan. Yaaaah kusadari aku sangat pemalu dan kuper (kurang pergaulan) kala itu.

Hari-hari berikutnya aku menjalani hidup sebagai anak kuliah. Berbagai mata kuliah praktikum secara beruntun kami jalani. Yang tidak lulus harus ulang, bagi yang sudah lulus harus memogramkan praktikum berikutnya. Kamu sudah jarang terlihat di kampus atau di lab. Mendengar kabar selintas dari obrolan para senior, ternyata kamu sudah wisuda dan mungkin setelah itu sudah bekerja di suatu tempat. Yang jelas aku tidak terhubung ke siapa pun untuk mengetahui kabarmu. Di akhir semester 3 aku beranikan diri mendaftar sebagai calon asisten lab bawah. Saat tes wawancara ternyata kamu ada diantara asisten senior lainnya sebagai asessor calon asisten. Ketika menjalani tes wawancara, rasanya jantung mau copot karena gugup. Aku gugup bukan karena siapa-siap termasuk dirimu tapi gugup karena takut tidak lulus dan tidak percaya diri ketika memberi respon pertanyaan asisten. Dalam batin sudah pasti saya tidak lulus😔. Tapi tak disangka pada lembar pengumuman kelulusan asisten nama aku ada dalam daftar. Jujur sangat tidak percaya jika mengingat performance aku saat tes. Tapi Alhamdulillah saja, mungkin ada pertimbangan mereka sehingga aku lulus. Senangnya bukan main. Aku punya playground baru yang tidak semua orang berani memilihnya. Terima kasih Allah, sudah gerakkan diri ini untuk berani meski tak percaya diri pada mulanya.

Menjalani rutinitas sebagai asisten lab bawah sangat menyenangkan. Banyak hal yang berkembang dari diriku termasuk dalam hal pengetahuan dan yang utama adalah perlahan rasa percaya diri mulai terbangun. Aku menyadari bahwa diriku sudah mulai lebih terbuka, mau membuka obrolan yang dulunya sangat berat aku lakukan. Perubahan ini sangat membantuku melewati masa-masa kuliah terasa lebih santai dan happy. Aku tidak terlalu memusingkan masalah uang yang minim, pakaian itu-itu saja yang kukenakan bahkan baju saya adalah warisan dari mama atau keluarga yang berlebih. Aku juga tidak terlalu mempermasalahkan mata kuliah yang sulit menurut temanku bukan karena mudah, tetapi aku dalam kondisi bersemangat termasuk dalam hal belajar. Sehingga aku jadi lebih mudah mengatasi tantangan yang ada. Yah mungkin hal ini disebabkan aku benar-benar menikmati peranku sebagai asisten lab bawah yang ternyata memberi kegembiraan dan semangat pada diriku. Lab sudah menjadi rumah pertamaku baru kamar kost😍. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di lab ketimbang di rumah. Oh iyah saat itu aku pindah kost ke rumah keluarga yang tidak lagi harus bayar sewa kamar, cukup bayar listrik dan telpon. Hanya saja jarak dari rumah ke kampus lumayan jauh. Kalau aku sudah ke kampus, benar-benar seharian berada di sana. Tak jarang setelah waktu magrib baru pulang ke rumah. Hal ini aku lakukan untuk menuntaskan kegiatan di lab sambil kuliah. Saat musim praktikum, tak terasa waktu berlalu.

Pada semester 7 akhir, aku mulai mengurangi kegiatan di lab. Beberapa asisten baru dari adik angkatan sudah bergabung. Yah, memang setiap tahun ada perekrutan asisten untuk menjaga tetap terjadi regenerasi, karena nantinya asisten senior  satu persatu akan meninggalkan lab seiring sudah menyelesaikan masa studinya. Di semester ini aku mulai mengambil mata kuliah akhir yaitu tugas akhir atau skripsi. Saat itu aku masih bingung akan mengambil judul apa untuk tugas akhir nanti. Seperti yang lainnya tugas akhir biasanya dikerjakan secara pasangan, alhamdulillah salah seorang teman mengajak aku jadi partner tugas akhir. Ditengah kebingungan menentukan judul skripsi, tiba-tiba salah seorang senior memberi saran agar kami sebaiknya menemui seseorang. Katanya ia adalah senior yang sering membantu yang lainnya ketika bingung masalah tema atau judul skripsi. Lalu ia menyebutkan nama orang itu adalah kak Salam. Tanpa menunda waktu, esok harinya kami ke rumah kak Salam untuk mendapatkan saran mengenai judul skripsi yang bisa kami ambil. Sebelum kami menemuinya, kami diberitahu kalau ia sedang OJT (On The Job Training) di PLN (Perusahaan Listrik Negara). Jadi sangat kebetulan juga ia pasti punya banyak referensi dari tempat kerjanya yang dapat menjadi bahan judul skripsi.

Bersambung.....

Rabu, 08 Januari 2025

Family Strategic Planning (FSP) 2025 Part 1



Keren sekali yah istilah ini "Family Strategic Planning". Apa yang Anda bayangkan ketika membaca kalimat ini? Apakah Anda langsung berimajinasi bahwa hal dibaliknya adalah sesuatu yang amaaaat besar dan berat. Yaaah saya pun punya kesan seperti itu terhadap kalimat ini pada mulanya.

Pada tahun 2017 pernah menyusun perencanaan untuk menjadi peta bagi keluarga. Membuat petanya mengikuti petunjuk worksheet dan pemahaman sekadarnya setelah mengikuti webinar dari tokoh pasangan suami istri sebagai praktisi Home Schooling dan FSP. Usia anak-anak saat itu masih SD. Semua item pembahasan dipikirkan sendiri. Yaah berhasil merumuskan petanya dengan rencana-rencan yang kubuat sendiri mulai dari : pemberian nama keluarga, tujuan, kondisi saat itu, golden rules hingga breakdown program setiap anggota keluarga. Peta saya buat secara digital menggunakan sebuah aplikasi desain. Hasilnya memang apik, saya puas sudah berhasil merumuskannya dengan lancar. Namun....peta itu hanya menjadi salah satu karya yang tidak pernah saya  gerakkan atau kenalkan kepada keluarga, terutama kepada suami. Entah mengapa terasa berat untuk menjadikan hal tersebut menjadi obrolan. Ada rasa tidak percaya bahwa konsep seperti ini akan diterima dengan baik oleh keluarga terutama suami. Berarti saat itu saya dan kamu masih berkutat dengan jalan pikirannya masing-masing. Yaah sekarang kami memahami itu adalah proses, yang terpenting diantara kita terutama saya sudah mulai memikirkannya.

Pada tahun ini bersyukur menemukan buku 'Family Strategic Planning" (FSP) yang ditulis oleh Dodik Mariyanto. Kemudian memutuskan membuat review buku tersebut agar pemahaman saya terhadap buku semakin dalam. Semangat ingin menghidupkan peta keluarga yang dulu pernah saya buat akhirnya menyala kembali. Kuputuskan membuat ulang peta itu sesuai kondisi kami saat ini. Tidak sulit untuk membuat peta, yang jadi tantangan adalah bagaimana mengenalkan konsep FSP kepada keluarga.

Langkah pertama yang saya lakukan adalah membagi konten review buku FSP, berharap anak-anak dan suami membacanya sehingga membangun pemahamannya "Apa dan Mengapa penting memikirkan dan melakukan langkah strategis untuk merawat pertumbuhan keluarga?". Pada kesempatan tertentu saya juga melakukan dialog dengan anak, menyampaikan rencana bahwa saat berkumpul dengan ayah nanti (kebetulan kami Long Distance Marriage, karena lokasi kerja suami di luar kota) akan membahas FSP ala keluarga kita. FSP itu apa sih?

Sebelum menceritakan lebih jauh apa yang akan kami rencanakan terkait peta keluarga ini, saya mengajak pembaca mengulik sedikit apa itu "Family Strategic Planning" yang disingkat FSP. Berdasar buku FSP, adalah salah satu pemikiran atau cara bagaimana merawat pertumbuhan keluarga. Penulis buku mengambil analogi jika biduk adalah rumah tangga atau keluarga, bahtera kehidupan adalah samudra, maka perjalanan sebuah keluarga seperti biduk yang sedang mengarungi samudra. Akan ada tantangan seperti angin, badai, gelombang yang akan dihadapi. Nah....bagaimana arah perjalanan keluarga sehingga biduk yang mengarungi samudra dapat berlayar dengan selamat dan mencapai tujuan ingin berlabuh dimana. Seperti layaknya sebuah perusahaan yang mampu mencapai target kinerjanya karena adanya perencanaan dan keterlibatan dari semua pegawainya. Tentu hal ini juga dapat diterapkan dalam keluarga, namun dengan cara rekreatif. Mengapa harus cara rekreatif? Tujuannya adalah agar semua anggota keluarga tidak merasa terbebani ketika baru mulai menjalankannya. Menjadikan ritual pertemuan yang menyenangkan namun diselingi obrolan tentang perjalanan atau pertumbuhan keluarga dari tahun ke tahun. Beberapa hal penting yang dirumuskan dalam FSP antara lain :

1. Nama Keluarga
Memilih nama yang menarik sesuai harapan atau makna yang diinginkan dari nama tersebut. Pada peta ini kami memilih nama keluarga dengan menggunakan Bahasa Bugis. Tujuannya agar setiap anggota keluarga tetap mengingat jati diri atau asal usulnya yaitu berasal dari suku Bugis. Pasompe' Malinrung inilah nama keluarga kami. Secara terminologi Pasompe' artinya perantau, Malinrung artinya gigih, tidak mudah menyerah. Sehingga dapat diartikan bahwa kami adalah keluarga perantau yang tidak mudah menyerah menjalani tantangan dalam hidup.

2. Tujuan
Merumuskan tujuan yang ingin dicapai bersama. Peta ini kami tetapkan periodenya selama 3 tahun, 2025 - 2028. Secara umum target yang ingin dicapai antara lain : pengurangan utang 35%, anak berhasil lulus masuk sekolah atau perguruan tinggi yang diimpikan, kesadaran spiritual berkembang minimal tidak menunda shalat wajib.

3. Kondisi saat ini
Memetakan kekuatan maupun kelemahan personal, ketersediaan sumber daya tangible maupun intangible serta posisi keuangan adalah hal penting menjadi bahasan bersama. Gambaran keadaan sumber daya saat memulai eksekusi rencana menjadi pertimbangan selama menjalankan program masing-masing anggota keluarga yang arahnya menuju tujuan keluarga.

4. Support System
Untuk berlayar mengarungi samudra keluarga tetap membutuhkan bantuan pihak luar atau infrastruktur lainnya, seperti : asisten rumah tangga, guru, mentor, sekolah, lembaga kursus, lingkungan tempat tinggal, keamanan, listrik, operator komunikasi, dan seterusnya. kesemua ini membantu kelancaran serta mempercepat program tercapainya tujuan tiap individu.

5. Bekal
Seperti layaknya pada sebuah perjalanan atau pelayaran, hal yang tidak boleh ketinggalan adalah bekal. Untuk sebuah peta perjalanan keluarga apa saja yang dapat menjadi kudapan atau bekal bagi anggota keluarga? Antara lain : basic skill life, bahasa inggris, literasi digital, karakter moral, pengelolaan keuangaan, sehat fisik dan mental. 

6. Golden Rules
Untuk menjaga tetap selaras terutama dalam hal menjaga nilai-nilai moral maka perlu menetapkan kompas tata nilai yang disebut golden rules. Aturan ini juga menjadi sekoci atau alat penyelamat ketika keadaan chaos. Beberapa aturan yang kami rumuskan antara lain : tetap menjalin komunikasi meskipun sedang emosi tinggi (jeda hanya berlaku sementara saja), keputusan yang diambil saat emosi tinggi tidak berlaku, sadar menjalani hidup sehat, saling menghargai, saat temukan jalan buntu kembalikan pada Al Quran & Hadist.

7. Program tiap Anggota Keluarga
Setelah merumuskan item-item sebelumnya, sudah mudah bagi tiap anggota keluarga merumuskan program atau agenda yang akan dijalankan yang bertujuan untuk berkontribusi mendukung tercapainya tujuan bersama. Orang tua tetap melakukan Monitoring & Evaluation untuk menilai kondisi perjalanan apakah masih on track atau off track,  selanjutnya harus melakukan apa jika off track.


bersambung part 2....

Minggu, 05 Januari 2025

Selalu Ada Jalan

Di sebuah bangku taman, Alan dan Hana terlibat dalam pembicaraan serius. Mereka adalah sepasang kekasih yang berniat melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan setelah saling mengenal selama satu tahun. Saat itu Alan telah bekerja di sebuah Perusahaan BUMN sementara Hana bekerja di sebuah Perusahaan Swasta Asing (pangan) di kotanya.

Alan : “Hana….!”

Hana : “Yah, ada apa?”

Alan : “Kalau kita nikah nanti, kamu bersedia berhenti kerja?”

Saat itu Hana diam. Ia sedang memikirkan suasana di tempat kerjanya. Semenjak pergantian atasannya, ia merasa suasana kerja tidak senyaman dan semenarik seperti dulu dengan atasan yang lama. Lalu….

Hana : “Oke, aku bersedia!”

Hana memberi jawaban singkat tanpa mengajukan syarat atau pertanyaan sedikit pun. Tentu Alan sangat senang mendengar jawaban Hana. Kemudian mereka larut dalam pembicaraan tentang keluarga masing-masing hingga saatnya harus pulang. Alan mengantar Hana terlebih dahulu baru ia kembali ke rumah kakaknya. Kebetulan kantor Alan berada di kota yang berbeda. Ketika akhir pekan saja Alan berkunjung ke rumah kakaknya sekaligus mengunjungi Hana.

Kurang lebih 2 tahun masa perkenalan berlangsung, akhirnya Hana dan Alan menikah.  Pada mulanya mereka ingin tinggal di sebuah rumah kontrakan, namun ibu Alan menyarankan untuk tinggal sementara di rumah kakak ipar (kakaknya Alan). Saat itu kondisi kakak ipar dalam keadaan hamil trimester 2. Beliau sangat baik dan ramah kepada Hana. Satu bulan kemudian Hana dan Alan putuskan membeli sebuah rumah yang letaknya tidak jauh dari rumah kakak ipar. Rumah itu masih dalam proses pembangunan yang akan memakan waktu kurang lebih 1 tahun hingga siap huni.

Tak lama dari itu, Hana positif hamil anak pertama. Betapa senang Alan mengetahui hal ini, begitu pun keluarga lainnya. Beberapa bulan berikutnya, Alan mendapat SK mutasi ke kota yang sama dengan Hana. Akhirnya mereka tidak lagi LDM (Long Distance Marriage). Hana masih bekerja sebagai staf Engineering di Perusahaan yang sama sebelum ia nikah.

Menjadi pasangan pengantin baru yang menumpang di rumah keluarga suami tak pernah ada masalah. Kakak ipar dan suaminya sangat baik. Mereka memperlakukan Hana seperti keluarga sendiri. Hanya saja Hana sedikit syok karena tiba-tiba harus hidup dengan keluarga sang suami. Hana berusaha beradaptasi dengan suasana baru itu. Dulu saat masih lajang Hana bisa saja tidur semaunya setelah salat Shubuh ketika libur kerja. Namun sekarang ia harus memaksa dirinya menjadi sosok istri yang tahu diri sedang tinggal dimana. Hana juga berusaha belajar masak dan memahami jenis menu kesukaan keluarga Alan. Yaaah kadang timbul perasaan “duuuh tidak bebas lagi”, namun itu adalah salah satu konsekuensi dari keputusan menikah yang Hana harus jalani.

Kehamilan Hana anak pertama menjadi pengalaman baru baginya. Bersyukur ia tidak mengalami hyperemesis, hanya saja nafsu makan Hana sangat bermasalah. Dikiranya hanya akan berlangsung pada trimester awal saja, ternyata hal itu berlangsung selama kehamilannya. Meskipun demikian Hana tetap masuk kerja seperti biasa. Alan juga menjalani rutinitas pekerjaannya seperti biasa. Hana baru tahu seperti apa pekerjaan suaminya, seorang Pejuang Terang. Saat itu Alan menduduki posisi sebagai supervisor. Sebuah alat komunikasi pada masa itu “Handy Talky” tak pernah jauh dari Alan. Hana sering melihat Alan menggunakan alat tersebut terutama ketika mengontrol pekerjaan staf di lapangan atau sedang monitoring jika terjadi gangguan di saluran penghantar listrik maupun di instalasi lainnya. Hana kadang ikut terbangun malam karena mendengar suara panggilan via alat tersebut. Hal ini  terjadi hampir setiap hari tanpa kenal waktu. Sejujurnya suara tengah malam dari alat itu cukup mengganggu tidurnya. Namun Hana harus terbiasa dengan hal itu.

Singkat cerita, Hana melahirkan anak pertama seorang putri cantik yang diberi nama Asha. Benar-benar sebuah pengalaman baru. Sebanyak berapa pun buku yang sudah dibacanya tentang persalinan dan merawat bayi baru lahir, ternyata dalam praktik tidak semudah yang dituliskan dalam buku itu. Mulai bagaimana cara memandikan, menyusui dituntut kesabaran, kesiapan gizi dan mental sang ibu. Hana menjalani masa-masa itu didukung oleh keluarga terutama kedua orang terkasih : mama dan mama mertua. Sementara Alan, waktunya benar-benar lebih banyak tercurah untuk pekerjaan yang tak bisa terhindarkan. Hana menyadari bahwa suaminya sebagai pejuang terang adalah petugas pelayan publik. Maka cara terbaik mendukung suaminya adalah tidak menuntut banyak akan kehadiran Alan untuk menemaninya setiap saat. Pada saat orang lain libur merayakan hari besar  justru para pejuang ini harus standby bekerja, memastikan keandalan pasokan dan layanan Listrik. Bahkan tidak bebas mengambil jatah cuti semaunya. Hana harus berbesar hati menjalani keadaan ini.

Alhamdulillah rumah Alan dan Hana sudah selesai dibangun dan siap huni. Mereka pun pindah ke rumah barunya. Semua turut senang dengan rezeki yang diberikan Allah SWT, kehadiran putri kecil yang cantik lalu rumah juga selesai dibangun. Hana tak lupa menyampaikan rasa terima kasih kepada keluarga kakak ipar karena sudah berkenan memberi tumpangan selama kurang lebih 1 tahun. Hana banyak melihat dan mendapat pengalaman bagaimana kakak ipar mengelola keluarganya sehingga tetap harmonis. Hana juga mendapat banyak referensi menu masakan yang sesuai selera suaminya yang tidak didapatkannya dari mama Hana sendiri. So punya stok referensi menu bertambah.

Merajut pengalaman baru sebagai keluarga muda yang pertama kali menempati rumah sendiri. Rasanya “Oh beginikah rasanya menikah, punya anak lalu punya rumah?”. Hana terharu bahagia dan bersyukur atas karunia yang didapatkannya. Tepat hari ketiga tinggal di rumah baru, saat tengah malam tiba-tiba si kecil Asha demam tinggi. Mereka tidak memiliki persiapan obat demam untuk bayi. Mereka juga tidak paham, dipikir bahwa bayi masih merah  seperti Asha belum boleh diberi obat kimia selain minum ASI saja. Demam Asha masih berlanjut, akhirnya keesokan hari dibawa ke rumah sakit terdekat. Setelah melakukan pendaftaran di Poli Anak, mereka menunggu giliran. Mereka juga membuat janji dengan seorang Dokter Spesialis Anak (DSA). Merasa penanganan akan lebih bagus jika dengan DSA, akhirnya mereka membatalkan berobat yang di Poli Anak.

Saat menanti kedatangan DSA yang tak kunjung terlihat, tiba-tiba Asha kecil menunjukkan tanda yang tak biasa. Kedua bola mata bergerak ke arah tengah batang hidung. Suami Hana langsung panik, lalu meraih Asha dari gendongan Hana melarikannya ke UGD (Unit Gawat Darurat). Hana hanya mengikuti dari belakang dengan pikiran kosong karena tidak paham apa yang sedang terjadi. Alan memohon pada dokter jaga agar segera tangani Asha dan menelpon DSA. Tak lama DSA yang dinantikan sejak pagi baru muncul menjelang waktu dzuhur. Hana melihat DSA itu meraba bagian ubun-ubun Asha yang terlihat mencekung. Dokter tersebut segera memerintahkan pasang selang oksigen melalui hidung dan cairan infus ke tangan Asha. Terlihat wajah Alan sangat cemas campur sedih, sementara Hana tatapannya kosong dalam pikirannya masih mempertanyakan “apa yang terjadi? Mengapa seperti ini?” Hana bingung tidak tahu harus berkata dan berbuat apa. Baru saja ia susui anaknya, mandikan dan tenangkan karena sering menangis, tiba-tiba terjadi hal demikian. Hana lebih sering terpaku, mengikuti langkah Alan saja tanpa banyak bicara. Akhirnya Asha dipindahkan ke ruang rawat karena ruang UGD harus segera disterilkan setelah pihak RS mendapat kabar bahwa telah terjadi kecelakan pesawat terbang yang berlokasi di perairan di kota itu.

Asha sudah mendapat penangan dan perawatan di ruang rawat inap. Saya juga sudah bisa menyusuinya Kembali. Namun anehnya Asha kecil belum pernah buka mata atau pun menangis. Ia menyusu sambil tutup mata. Kemudian dokter menyampaikan saran, untuk mengetahui penyakit Asha rencana akan melakukan tindakan pengambilan cairan tulang sumsum belakang. Rencananya dilakukan esok hari. Belum terlaksana rencana tersebut, setelah waktu Isya, bayi cantik mungil itu berpulang ke pemiliknya. Rasa sedih yang tak terkira menyeruak di relung hati Hana dan Alan. Air mata tumpah diiringi doa terbaik agar baby Asha menjadi bidadari surga di alam sana. Alan terlihat sangat terpukul dengan peristiwa ini. Masa awal melahirkan hingga Asha sakit, ia lebih sering berada di lapangan karena keadaan sistem Listrik saat itu. Hana lebih banyak ditemani oleh mama dan ibu mertua secara bergantian. Hana sangat paham melihat kesedihan suaminya itu. Bagi mereka kepergian putrinya begitu cepat. Belum sempat Hana benar-benar menikmati nikmatnya bonding saat menyusui, karena pada masa itu Hana masih dalam proses adaptasi sebagai ibu baru. Sesedih bagaimanapun harus tabah dan ikhlas. Ini sudah takdir dari Tuhan. Hana dan Alan berharap akan diberikan pengganti yang lebih baik lagi.

Hari demi hari berlalu, Hana memutuskan segera kembali masuk kerja setelah cuti melahirkan. Tak lama kemudian Alan kembali menerima  SK Mutasi ke Sumatera Barat, Kota Padang. Rasanya kepindahan Alan begitu cepat. Belum cukup sebulan menempati rumah baru dan kepergian putrinya, suami Hana sudah harus pindah lagi ke tempat kerja yang baru. Hana sedikit merasa cemas karena lokasi yang dituju suami sering terjadi gempa bumi. Namun tak ada pilihan selain mengikut sesuai keputusan dari kedinasan suami. Akhirnya mereka kembali menjalin hubungan secara LDM. Suka duka menjalani hidup seperti ini menjadi tantangan baru. Alan harus menempuh perjalanan dua kali naik pesawat untuk bisa bertemu dengan Hana. Biaya tiket pesawat saat itu cukup mahal. Tentunya ini berdampak bagi keuangan mereka yang sedang berusaha menyelesaikan pembayaran rumah baru. Akhirnya mereka sepakat bisa bertemu pas ada perjalanan dinas. Dalam kondisi demikian Hana mengingat permintaan Alan saat sebelum menikah, yang meminta Hana bersedia berhenti kerja kantoran. Tidak mengulur waktu lama lagi, Hana pun mengajukan surat pengunduran dirinya dengan alasan mengikuti suami yang pindah tempat kerja. Pada dasarnya Hana sangat menyukai jenis pekerjaannya, karena masih terkait dengan latar belakang pendidikan Hana yakni lulusan Fakultas Teknis Jurusan Elektro. Jurusan yang sama dengan suaminya Alan hanya berbeda tahun masuk saja.

Alan memboyong Hana terbang ke kota Padang-Sumbar. Sejak saat itu Hana mulai berstatus Full Time Wife. Impian terdekat mereka adalah segera dikaruniai anak kembali. Gayun bersambut 3 bulan kemudian Hana positif hamil. Betapa senang Alan mengetahui kabar ini. Hana berusaha menjaga nutrisi yang masuk kedalam tubuhnya. Peristiwa yang dialami oleh putri pertamanya menjadi pelajaran baginya untuk lebih prepare lagi. Hana membaca banyak buku referensi tentang kehamilan, perawatan bayi dan ibu pasca melahirkan, bagaimana jika bayi sakit dan seterusnya.

Karena alasan sering gempa di Sumbar, Hana dan Alan memutuskan akan melahirkan di kota kelahirannya. Hana pun terbang pulang untuk persiapan lahiran. Pada saat muncul tanda akan melahirkan barulah Alan mengambil cuti dan terbang pulang mendampingi Hana. Seperti persalinan normal pada umumnya Hana melahirkan putra kedua yang sangat menggemaskan. Mereka beri nama baby F. Pasca melahirkan Hana merasa menjadi pencemas. Ia sering dihantui perasaan takut jika peristiwa anak pertamanya terjadi pada baby F. Baby F berusia 6 bulan barulah diboyong ke Padang. Hana melalui hari-harinya merawat baby F dengan ekstra hati-hati, sementara urusan rumah dibantu oleh seorang art harian.

Tepat baby F usia 15 bulan Hana kembali positif hamil. Hana melewati kehamilan kali ini tidak banyak masalah. Mungkin karena sudah punya pengalaman dengan kehamilan anak-anak sebelumnya. Saat kehamilan Hana berusia 3 bulan, selepas waktu Ashar tiba-tiba terjadi gempa besar. Hal pertama yang Hana lakukan saat itu adalah berlari secepat mungkin keluar dari rumah sambil menggendong baby F. Kebetulan Hana ditemani seorang art yang ikut menyusulnya lari keluar rumah. Mereka ikut berkumpul di depan rumah seorang tetangga yang memiliki beberapa lantai. Hal ini Hana putuskan untuk jaga-jaga jikalau terjadi tsunami, bisa langsung evakuasi ke rumah tersebut. Rumah kontrakan Hana saat itu sangat dekat dari Pantai. Warga lokal yang tinggal di sekitar Pantai berhamburan keluar. Mereka turut berkumpul di tempat Hana berada. Terlihat banyak diantaranya yang bertangisan karena cemas, takut jikalau terjadi tsunami seperti peristiwa gempa megathrust di Aceh. Hana melihat air di selokan meluap, membuatnya bertambah cemas apalagi dirinya dalam keadaan hamil muda. Ia memeluk erat baby F yang belum mengerti apa yang sedang terjadi. Selain mencemaskan dirinya, Hana juga terlihat gusar memikirkan bagaimana caranya agar bisa bertemu Alan segera. Saat ini akses dari kantor Alan ke rumah pasti macet berat. Jaringan komunikasi juga shutdown kecuali operator yang menggunakan teknologi fiber optic. Kebetulan Hana menggunakan 2 ponsel berbeda operator, salah satu operator masih bisa digunakan. Melalui saluran inilah Hana mendapat kabar dari teman bahwa gempa yang terjadi itu adalah gempa darat yang tidak berpotensi tsunami. Alhamdulillah ucap Hana, kecemasannya sedikit berkurang dan tidak perlu ikut berdesakan mencari tempat yang tinggi. Jelang waktu Isya Hana baru bertemu dengan suaminya di area terbuka. Alan bercerita ketika di perjalanan pulang tadi ia melihat gedung show room mobil dan tempat les ambruk rata dengan tanah. Mendengar cerita Alan, Hana sudah membayangkan kemungkinan besar banyak yang jatuh korban, tak terkira suasana genting di luar sana terutama di RS-RS dan Gedung-gedung tinggi lainnya. Malam itu mereka berkumpul dengan teman sejawat lainnya bermalam di salah satu rumah teman yang kondisinya lebih aman jika terjadi gempa susulan. Esok hari mereka mengungsi ke rumah salah satu teman sejawat juga karena berada di lokasi tempat evakuasi warga jika terjadi gempa. Sekaligus menjadikan rumah tersebut sebagai posko sementara. Mereka ada 3 keluarga yang berkumpul, termasuk pemilik rumah. Untuk kebutuhan penerangan menggunakan genset karena jaringan listrik padam total. Mereka mengumpulkan dana bersama untuk membeli bahan bakar genset dan juga bahan dapur untuk makan bersama. Para suami sudah mulai bekerja, untuk pengerjaan recovery sistem di berbagai area instalasi. Tentu hal ini bukan pekerjaan yang ringan dan singkat dengan melihat tingkat kerusakan infrastruktur yang terjadi. Tugas ibu-ibu memastikan persediaan konsumsi bapak-bapak tetap ada sehingga mereka cukup fokus pada pekerjaannya. Kerjasama ini sangat berarti terutama dalam situasi darurat seperti saat itu.  Butuh waktu recovery beberapa pekan, bulan agar listrik kembali menyala tapi pasti secara bertahap, terutama di beberapa daerah yang terdampak gempa. Kejadian gempa kali ini menjadi alasan bagi Hana dan Alan jika nanti kondisi sudah normal mereka memutuskan pindah rumah kontrakan ke tempat yang lebih tinggi tapi tidak jauh dari kantor Alan.

Ancaman gempa tak bisa hilang dari benak Hana. Semenjak peristiwa tersebut ia dan Alan tidak berani berlama-lama berada di gedung tinggi seperti mall atau tempat lainnya. Hana lebih memilih belanja atau membawa bermain baby F ke tempat yang lebih aman. Beberapa bulan berikutnya Hana melahirkan adik baby F melalui operasi Caesar. Ia diberi nama baby Z. Alhamdulillah semua dalam keadaan sehat. Mama Hana dan tante datang menemani hingga beberapa bulan. Kesibukan Alan juga semakin bertambah semenjak ia mendapat promosi terlebih lagi kantor Alan yang sekarang menangani pekerjaan operasional. Tak jarang Alan harus dinas ke luar kota hingga beberapa hari. Agenda rapat juga semakin sering. Rutinitas ini menjadi tantangan bagi Hana bagaimana mendampingi anak-anaknya tanpa berharap banyak kehadiran Alan secara fisik. Mama dan tante sudah harus pulang, Hana ditemani seorang art. Sejak Baby F lahir, meskipun ada yang menemani, untuk mengganti popok, menidurkan dan lainnya Hana lakukan sendiri, kecuali ia sedang tidak sehat barulah meminta bantuan. Hana sudah terbiasa dengan ritme tidur malam yang singkat. Yang terpenting baginya ada yang mengerjakan pekerjaan domestik. Art adalah support system paling penting bagi Hana. Beberapa kali Hana terpaksa ganti art, bukan karena diberhentikan melainkan si art jikalau sudah pulang kampung saat libur hari raya pada umumnya tidak balik lagi dengan berbagai alasan. Merawat anak kecil tanpa bantuan art dengan ritme pekerjaan suami yang tidak menentu menjadi battle tersendiri bagi Hana. Ditambah ketika baby Z genap berusia 15 bulan, Hana kembali positif hamil. Hana masih takut menggunakan alat kontrasepsi. Dalam kondisi tersebut ia dan Alan berusaha menemukan art yang dapat meringankan pekerjaan domestik. Hana bisa lebih fokus merawat dan mendidik anak-anaknya sambil menjalani kehamilannya yang ke empat. Meskipun Alan cukup sibuk dengan pekerjaan kantornya, ia menyempatkan diri bermain dengan si kecil terutama saat wiken. Waktu kehadirannya pasti terbatas, hal ini memaksa Hana untuk mengambil peran lebih banyak untuk masalah anak-anak. Ia tidak banyak melakukan aktifitas di luar rumah. Beberapa bulan berlalu anak keempatnya lahir yang diberi nama baby Y, seorang putri mungil. Saat ini ia ditemani 3 anak kecil. Putri sulungnya sudah menjadi bidadari surga insyaa Allah.

Beberapa bulan setelah kelahiran baby Y, Hana dan Alan pindah kontrakan lagi karena rumah yang ditempati ingin dijual oleh pemiliknya. Urusan pindah kontrakan juga bukan perkara ringan. Bersyukur mereka banyak mendapat bantuan tenaga oleh petugas Cleaning Service (CS) dari kantor. Biasanya Hana mengurus barang-barang ringan seperti pakaian, peralatan dapur, selebihnya ditangani oleh Alan dan CS. Akhirnya mereka sudah menempati rumah kontrakan baru. Letaknya cukup dekat dari kantor Alan. Tak lama kemudian Alan mendapat SK Promosi Jabatan menjadi manager di kantor tersebut, artinya tanggung jawab Alan semakin besar dibanding dengan sebelumnya. Sesuai aturan di Perusahaan tersebut istri manajer dalam hal ini Hana secara otomatis menjadi ketua Organisasi Perempuan (PIKK) di kantor tersebut. Peran baru ini menuntut Hana memikirkan bagaimana cara menyelaraskan urusan anak-anak dan komunitas. Pada awal menjabat, Hana mencoba beradaptasi agar aktifitas di PIKK tetap selaras dengan perannya sebagai ibu maupun istri. Tidak berat baginya namun berbeda saja bila dibandingkan ketika Hana masih bergabung dengan Corps Asisten Lab saat kuliah dan ketika ia masih bekerja. Memimpin Ibu-ibu ternyata memiliki tantangan dan kondisi tersendiri. Namun, bagi Hana karena ia juga seorang ibu, maka ia mampu memahami masalah utama apa yang dihadapi oleh seorang ibu. Menyelesaikan tantangannya sebagai diri pribadi, sebagai ibu dan juga istri adalah menjadi bagian referensi bagaimana Hana mengelola PIKK kemudian. Mengajak para ibu untuk tetap berdaya dan tangguh, karena menjadi madrasah utama dan pertama bagi keluarga, bukanlah hal instan. Membutuhkan kesadaran diri untuk terus berkembang agar menjadi fasilitator keluarga yang adaptif dengan perubahan zaman. Selama menjalankan peran sebagai ketua PIKK, Hana berkomitmen menjaga nama baik dan mendukung karir suami. Hana tak jarang melibatkan Alan melalui diskusi terkait strategi pengelolaan PIKK. Hana sadar sebagai istri pejuang terang dituntut mengambil peran paling banyak di rumah, karena untuk mengganti ketidakhadiran langsung para suami yang disebabkan oleh beban kerja yang tidak menentu. Semangat para Ibu, kamu pasti selalu memiliki cara untuk mengatasinya, Insyaa Allah.

Family Strategic Planning (FSP) 2025 Part 2

  Pada 11 Januari 2025, Sabtu kemarin adalah perdana kami lakukan forum keluarga secara sengaja untuk membahas peta keluarga. Sehari sebelum...